Waspada, Delirium Bisa Jadi Gejala Awal Covid-19

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM – Delirium bisa menjadi gejala awal orang yang terinfeksi Covid-19. Jika ada keluarga yang diduga mengigau, segera konsultasikan ke puskesmas terdekat.

Spesialis Saraf di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Fajar Maskuri, Sp.S., M.Sc., mengatakan delirium merupakan gangguan sistem saraf pusat berupa gangguan kognitif dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan.

“Kondisi ini terjadi karena disfungsi otak pada beberapa pasien Covid-19.” Oleh karena itu, kenali dan waspadai delirium yang bisa menjadi gejala awal Covid-19, ”ujar Dr. Fajar Maskuri, dikutip dari situs UGM, Minggu (20/12/2020).

Dia menyebutkan sejumlah gejala delirium. Salah satunya adalah kebingungan pada pasien Covid-19. Kemudian disorientasi, mengigau, sulit berkonsentrasi / kurang fokus, cemas, dan halusinasi.

Gejalanya berfluktuasi dan biasanya berkembang pesat dalam beberapa jam atau beberapa hari, jelasnya.

Penyebab delirium pada pasien Covid-19 dikatakan multifaktorial. Salah satunya adalah kekurangan oksigen dalam tubuh atau hipoksia.

Selanjutnya, penyakit sistemik dan inflamasi sistemik, gangguan sistem pembekuan darah yang terlalu aktif (koagulopati), dan infeksi langsung virus Covid-19 ke saraf.

Kemudian, mekanisme autoimun pasca infeksi dan endotheliitis juga mempengaruhi munculnya delirium pada pasien, tetapi dengan intensitas yang lebih rendah dibandingkan mekanisme lainnya.

Seberapa sering delirium muncul pada pasien Covid-19? Menurut Fajar, gangguan saraf bisa terjadi pada sekitar 42,2 persen penderita Covid-19. Sedangkan manifestasi gangguan saraf yang paling sering terjadi pada penderita Covid-19 adalah nyeri otot (44,8 persen), sakit kepala (37,7 persen), delirium (31,8 persen), pusing (29,7 persen).

“Secara umum delirium dialami 13-19 persen penderita Covid-19. Delirium rentan terjadi pada lansia di atas 65 tahun, terutama pada lansia yang lebih lemah,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, bukan berarti pasien berusia muda tidak bisa mengigau. Penemuan delirium pada pasien muda Covid-19 mengindikasikan ensefalopati karena masalah pernapasan yang parah.

Fajar menuturkan, delirium pada pasien Covid-19 itu terkait kegagalan sistem multi organ. Sebab, penderita Covid-19 dengan gejala parah berisiko empat kali lipat mengalami delirium.

Delirium pada Covid-19 terkait dengan perpanjangan waktu tinggal hingga 3x, jelasnya.

Dalam jangka panjang delirium dikaitkan dengan hasil fungsional yang lebih buruk pada pasien Covid-19 yang dirawat. Pasalnya, pasien membutuhkan pemantauan jangka panjang untuk menilai beban akibat delirium yang sebenarnya.

Sementara itu, beberapa pasien Covid-19 dengan gejala ringan yang tidak memerlukan rawat inap melaporkan masalah konsentrasi yang terus-menerus dan penurunan daya ingat jangka pendek (‘brain fog’).

“Oleh karena itu, evaluasi sistem saraf dan kognitif penting untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut dan untuk mengetahui kebutuhan pasien terhadap terapi rehabilitasi,” pungkasnya.

Selain itu, delirium juga dapat terjadi pada pasien yang mendapat obat psikotropika karena kondisi penyakit tertentu. Oleh karena itu peran keluarga sangat penting untuk memberikan informasi tentang riwayat penyakit dan obat yang diminum pasien kepada tenaga medis selama pasien dirawat.

Source