Warga Sipil yang Mengamuk Menyerang Junta Myanmar, 18 Tentara Tewas

Jakarta, CNBC Indonesia – Warga di kota perbatasan Tamu, Myanmar, dikabarkan mengamuk dan melakukan penyerangan terhadap junta militer pada Minggu (11/4/2021). Ini terjadi setelah kejadian sebelumnya dilakukan oleh pihak berwajib.

Dalam serangan itu, organisasi bersenjata setempat mengatakan 18 tentara junta militer dilaporkan tewas. Namun, sejumlah sanksi membuat 19 orang tewas.

“Polisi dan tentara menggunakan peluncur granat, senapan mesin dan bahan peledak untuk melawan kami. Kami juga mendengar bahwa 19 tentara tewas ketika granat dilemparkan ke truk militer,” seorang saksi di Tamu seperti dikutip oleh media. Irrawaddy.

Kemarahan warga dipicu oleh terbunuhnya seorang warga sipil. Diketahui bahwa warga tidak berpartisipasi dalam protes apapun dan pada saat kejadian ia hanya mengendarai sepeda motor.

Dia ditembak di kepala. Tak hanya itu, seorang warga lainnya juga dipukul oleh junta militer.

“Satu ditembak di kepala dan satu lagi ditembak di punggung,” kata seorang warga.

Pengunjuk rasa anti-rezim terus turun ke jalan, meskipun tindakan keras yang fatal dan pasukan rezim menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan penghalang jalan pengunjuk rasa. Hal ini membuat sebagian warga bermigrasi dari Tamu untuk menghindari kekerasan yang berujung di perbatasan India.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. Hingga Sabtu (10/4/2021), Asosiasi Bantuan Tahanan Politik mencatat setidaknya 701 warga sipil telah terbunuh oleh pasukan junta sejak Kudeta 1 Februari.

Bahkan Negeri Seribu Pagoda berada di bawah ancaman perang saudara setelah 10 milisi bersenjata etnis memberikan dukungan penuh kepada “pemerintah tandingan” yang dibentuk oleh Parlemen Bersatu Pyidaungsu Hluttaw (CRPH). CRPH sendiri diciptakan oleh kader partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang digulingkan oleh militer.

Belum ada komentar resmi dari perwakilan junta militer tentang masalah ini. Selama ini, melalui media pemerintah, militer menyebut para demonstran sebagai teroris dan membahayakan stabilitas nasional negara.

[Gambas:Video CNBC]

(sef / sef)


Source