Warga PNG ditangkap di Papua atas penyelundupan ganja lintas batas

Jayapura, Papua (ANTARA) – Petugas kepolisian Republik Indonesia di Provinsi Papua menangkap seorang warga Papua Nugini (PNG) pada Senin dini hari (22 Maret) karena diduga terlibat jaringan perdagangan narkoba lintas batas.

Polisi menyita lima karung ganja dari tahanan, Direktur Reserse Kriminal Polda Papua-Divisi Narkotika Senator Coms. Kata Alfian.

Warga PNG bernama Gadafi Kuentaw Waropo, 18 tahun, ditangkap di Kelurahan Banyak Pulau Jayapura Selatan, Kota Jayapura, menyusul penangkapan Beny Toway Waropo, 28 tahun.

Waropo menyembunyikan bungkusan ganja itu di sebuah tempat di dekat rumahnya di Pulau Banyak, ungkap Alfian.

Sedangkan Waropo ditangkap di kawasan Kali Acai, Abepura, Ahad (21/3) malam, kata Alfian kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Saat penggerebekan di rumahnya, polisi menemukan 21 bungkus ganja dan sekantong beras 10 kg, kata Alfian, seraya menambahkan bahwa paket ganja tersebut diselundupkan ke Papua dari PNG.

Namun, Alfian belum mendapatkan informasi konkrit apakah bungkusan narkoba itu diselundupkan lewat laut atau darat karena kasus tersebut sedang diperiksa oleh Polda Papua.

Dalam memerangi jaringan narkoba di masyarakat, Alfian mengimbau warga untuk membantu polisi dengan memberikan informasi jika melihat ada dugaan aktivitas di lingkungan sekitar.

Pengedar narkoba domestik dan transnasional memandang Indonesia sebagai pasar potensial karena populasinya yang besar dan jutaan pengguna narkoba.

Indonesia telah terseret ke dalam keadaan darurat perdagangan dan penyalahgunaan narkotika. Perdagangan narkoba di Tanah Air bernilai hampir Rp66 triliun.

Data menunjukkan bahwa orang-orang dari semua lapisan masyarakat menjadi mangsa narkoba di negara ini terlepas dari latar belakang sosial-ekonomi dan profesional mereka.

Terlepas dari pandemi COVID-19, yang melanda negara itu pada 2 Maret 2020, raja narkoba terus menjadi ancaman serius karena perdagangan narkoba yang merajalela bahkan di tengah krisis kesehatan.

Sejak masa kepemimpinan pertamanya, Presiden Joko Widodo terus mengingatkan masyarakat akan dampak serius konsumsi narkoba di Indonesia.

Saat meresmikan masjid agung di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 20 Januari 2015, kepala negara telah mewanti-wanti setidaknya 50 orang meninggal akibat penggunaan narkoba setiap hari.

Statistik termasuk mereka yang gagal direhabilitasi. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), Indonesia memiliki lebih dari 3,3 juta pengguna narkoba pada tahun 2017.

Para pengguna narkoba termasuk dalam kelompok usia 10-59 tahun, dan persentase remaja yang menjadi korban kecanduan narkoba mencapai 24-28 persen, menurut BNN.

Informasi di situs resmi lembaga tersebut menemukan bahwa orang Indonesia di kelompok usia 15-35 tahun berada pada risiko tertinggi penyalahgunaan narkoba.

Dalam mendukung jaringan perdagangan narkoba mereka di negara ini, para gembong narkoba menyeret tidak hanya orang-orang berusia 30-an ke dalam lingkaran narkoba mereka tetapi bahkan mereka yang berusia 20-an.

Berita terkait: Tentara di dekat perbatasan Indonesia-PNG membantu warga membangun gereja

Berita terkait: Tentara di dekat perbatasan darat Indonesia-PNG melakukan pekerjaan perbaikan jembatan
Tutup DIEDIT OLEH INE

Source