Uni Eropa Menyebut Rusia dan China Menghalangi Upaya Internasional Terkait Myanmar

Memuat …

BRUSSELSUni Eropa (UE) mengatakan Rusia dan China menghambat tanggapan internasional terhadap kudeta militer Myanmar. UE juga mengatakan dapat menawarkan lebih banyak insentif ekonomi jika demokrasi kembali ke Myanmar.

Namun, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengaku tidak terkejut dengan langkah Rusia dan China tersebut. Baca juga: Meminta Pembebasan Suu Kyi, Duta Besar Myanmar dikurung di luar Kedutaan Besar London

Seperti diketahui, China dan Rusia sama-sama memiliki hubungan dengan Angkatan Bersenjata Myanmar, sebagai pemasok senjata terbesar pertama dan kedua di negara itu.

“Tidak mengherankan jika Rusia dan China memblokir upaya Dewan Keamanan PBB (DK), misalnya, untuk melakukan embargo senjata,” kata Borrell dalam pernyataannya.

“Persaingan geopolitik di Myanmar akan sangat sulit untuk menemukan titik temu. Tapi, kami punya kewajiban untuk mencobanya,” lanjutnya, seperti dilansir Reuters, Senin (12/4/2021).

Borrell kemudian mengatakan pasukan keamanan Myanmar telah membunuh ratusan demonstran, termasuk 46 anak-anak. Menurutnya, ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan.

“Dunia menyaksikan dengan ngeri, karena tentara menggunakan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri,” katanya. Baca juga: Uni Eropa Terapkan Sanksi pada Militer Myanmar, Sasaran Para Jenderal

UE, jelasnya, sedang menyiapkan sanksi baru bagi individu dan perusahaan milik militer Myanmar. Uni Eropa pada Maret menyetujui serangkaian sanksi pertama terhadap 11 orang yang terkait dengan kudeta, termasuk panglima militer.

Sementara pengaruh ekonomi UE di negara itu relatif kecil, Borrell mengatakan UE dapat menawarkan untuk meningkatkan hubungan ekonominya dengan Myanmar jika demokrasi dipulihkan.

“Itu bisa mencakup lebih banyak perdagangan dan investasi dalam pembangunan berkelanjutan,” katanya.

(esn)

Source