Toyota Boss Mengungkap Potensi Masalah pada Mobil Listrik

JAKARTA, KOMPAS.com – President of the Toyota Motor Corporation (TMC) Akio Toyoda menyatakan bahwa perubahan industri otomotif menuju era elektrifikasi atau baterai kendaraan listrik Berlebihan (BEV) bisa menjadi masalah besar.

Bahkan dalam kondisi tertentu, sumber listrik yang dimiliki negara seperti Jepang bisa cepat habis, apalagi di musim panas. Sedangkan pembangunan infrastruktur pendukung sangat kompleks dan tidak murah.

Menurut Toyoda, biaya yang dibutuhkan sebagai fondasi penopang mobil listrik antara 14 triliun yen hingga 37 triliun yen, atau setara 135 miliar dolar AS hingga 358 miliar dolar AS (sekitar Rp 5 triliun).

Baca juga: Tekan Impor Bahan Bakar, Program Kendaraan Listrik Berbasis Baterai Diresmikan

Chairman JAMA Akio Toyotacaradvice.com Chairman JAMA Akio Toyota

Selain itu, masih banyak negara yang menghasilkan listrik dari pembakaran batu bara dan gas alam. Dengan demikian, transisi tersebut tidak membantu upaya mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat dengan mengurangi emisi karbon.

“Ketika politisi di luar sana berkata, ‘Mari kita singkirkan semua mobil yang menggunakan bensin,’ apakah mereka mengerti ini?” katanya dilaporkan Wall Street Journal, Senin (21/12/2020).

“Saat kondisi tidak siap, semakin banyak mobil listrik yang diproduksi maka karbondioksida akan semakin buruk,” tambah Toyoda.

Ia juga khawatir kebijakan yang diterapkan pemerintah justru membuat mobil listrik menjadi mahal dan sulit dijangkau masyarakat.

Baca juga: Anomali Mobil Elektrifikasi di Tengah Pandemi

Lexus UX 300e adalah SUV crossover mewah kompak pertama yang ditenagai oleh mesin listrik penuh atau kendaraan listrik baterai (BEV). DERMAGA. LEXUS INDONESIA Lexus UX 300e adalah SUV crossover mewah kompak pertama yang ditenagai oleh mesin listrik penuh atau kendaraan listrik baterai (BEV).

Sebelumnya, dilaporkan Reuters, Sabtu (5/12/2020), pemerintah Jepang bersiap menghentikan penjualan mobil bermesin pembakaran dalam pada pertengahan tahun 2030.

Hal ini untuk mendukung target Perdana Menteri Jepang yang baru, Yoshihide Suga, yang berupaya mengurangi jumlah emisi karbon di Jepang hingga nol persen pada tahun 2050.

Kementerian Perindustrian Jepang juga dikabarkan mempertimbangkan untuk mewajibkan model baru yang keluar di masa depan menjadi mobil hybrid dan listrik.

Toyoda melanjutkan, ketika Jepang terlalu terburu-buru melarang mobil bertenaga bensin, bisnis industri mobil model saat ini kemungkinan besar akan runtuh. Efek ini dikatakan mampu menghapus jutaan pekerjaan.

Source