Tower Bersama Akuisisi Menara Telekomunikasi Inti Bangun seharga Rp 3,97 Triliun

JAKARTA, investor.id – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melalui anak perusahaannya, PT Tower Bersama, menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi hingga 3.000 menara telekomunikasi milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST). Nilai transaksinya mencapai Rp 3,97 triliun atau setara dengan US $ 280 juta.

Perjanjian jual beli tersebut telah diselesaikan pada tanggal 21 Desember 2020. Akuisisi ini akan membuat total menara telekomunikasi Tower Bersama menjadi lebih dari 19.000 situs. “Akuisisi ini melengkapi strategi utama perseroan yang fokus pada pertumbuhan organik. Secara proforma, transaksi ini akan meningkatkan EBITDA perseroan sekitar 10% dan berdampak langsung tambahan. Transaksi ini diharapkan selesai pada akhir tahun Kuartal I 2021, “kata CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/12).

Dia menegaskan, penyelesaian transaksi ini masih membutuhkan berbagai persetujuan, termasuk persetujuan pemegang saham dan pemberi pinjaman dari Tower Bersama dan Inti Bangun Sejahtera.

Pada 30 September 2020, Tower Bersama memiliki 31.703 penyewa dan 16.215 situs telekomunikasi. Situs Telekomunikasi perseroan terdiri dari 16.093 menara telekomunikasi dan 122 jaringan DAS. Dengan total tarif sewa menara telekomunikasi sebesar 31.581, maka rasio kolokasi Perseroan menjadi 1,96.

Hingga kuartal III 2020, Tower Bersama membukukan laba bersih Rp 747,46 miliar, atau tumbuh 22,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 611,96 miliar. Laba bersih tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan perseroan sebesar 13,5% menjadi Rp 3,93 triliun pada kuartal III tahun 2020 dibandingkan kuartal III tahun 2019 sebesar Rp 3,46 triliun. Sedangkan EBITDA mencapai Rp. 3,4 triliun. Jika pencapaian kuartal III dianualisasi, total pendapatan dan EBITDA perseroan akan mencapai Rp 5,4 triliun dan Rp 4,72 triliun.

Pendapatan sewa perseroan berasal dari lima perusahaan telekomunikasi, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk (ISAT), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Hutchison 3 Indonesia, dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Di antara lima perusahaan tersebut, pendapatan sewa dari Telkomsel menjadi penyumbang terbesar yakni Rp 1,54 triliun. Pendapatan sewa ini relatif stabil dibandingkan kuartal III 2019 yang sebesar Rp 1,51 triliun.

Sedangkan Inti Bangun Sejahtera memiliki 5.686 menara hingga triwulan III tahun 2020. Jumlah ini bertambah 210 menara dibandingkan realisasi tahun 2019 sebanyak 5.476 menara. Penambahan tower tersebut seiring dengan peningkatan penyewa penyewa. Hingga September 2020, jumlah tersebut tercatat penyewa perusahaan sebanyak 9.395 atau meningkat 795 penyewa hanya sembilan bulan tahun ini.

Selain menara, Inti Bangun juga memiliki portofolio jaringan serat optik. Hingga September 2020, pemasangan serat optik perseroan telah mencapai 12.063 km. Empat terbesar berada di Jakarta dengan panjang 2.305 km, Medan dengan panjang 1.196 km, Semarang 214 km, dan Makassar 177 km.

Persaingan ketat

Jika tindakan ini berjalan dengan baik, Tower Bersama akan menambah aset menara dengan cepat, seperti yang telah dilakukan para pesaingnya. Sebelumnya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) mengakuisisi 1.728 menara XL senilai Rp 2,24 triliun. Saat ini Protelindo memiliki dan mengelola 21.271 menara di Indonesia tersebar di 38.122 poin.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga tidak mau ketinggalan. Perusahaan melakukan strategi untuk mengkonsolidasikan aset menara pada anak perusahaannya. PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi 6.050 menara telekomunikasi PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) senilai Rp 10,3 triliun pada Oktober lalu.

Tindakan Mitratel dinilai mengubah dinamika dan peta industri telekomunikasi nasional. Akuisisi ini akan meningkatkan jumlah menara telekomunikasi Mitratel menjadi 22.140 menara, melebihi aset Sarana Menara sebagai pemegang saham pasar. Telkom juga membuka peluang Mitratel untuk mengadakan penawaran umum perdana (penawaran umum perdana/ IPO) saham di masa mendatang.

Editor: Jauhari Mahardhika ([email protected])

Source