Terkait kenaikan cukai rokok 2021, HMSP dan GGRM mengambil sikap

Bisnsi.com, JAKARTA – Emiten rokok berkapitalisasi besar adalah PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) mengapresiasi keputusan pemerintah tidak menaikkan tarif cukai segmen sigaret kretek tangan (SKT).

Direktur Gudang Garam Istata Taswin Siddharta mengatakan pihaknya mendukung kebijakan pemerintah tersebut.

“Bagus (kebijakan tarif CHT segmen SKT tidak dinaikkan) karena SKT banyak menyerap tenaga kerja,” ujarnya. Bisnis, Selasa (15/12/2020).

Sebagai informasi, bisnis GGRM sendiri masih ditopang oleh penjualan segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang berkontribusi 91,25% terhadap pendapatan perseroan hingga periode September 2020.

Di sisi lain, segmen SKT menyumbang 7,65% terhadap omzet perseroan hingga periode September tahun ini. Penjualan SKT juga naik 10,06 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama HM Sampoerna Mindaugas Trumpaitis mengatakan, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai untuk segmen SKT padat karya sangat bermanfaat untuk melindungi pekerja.

Guna mendukung industri rokok untuk tetap bertahan dan terus menyediakan lapangan pekerjaan di saat yang penuh tantangan ini, HMSP sebelumnya telah memberikan masukan tersebut kepada pemerintah.

Sementara di segmen Sigaret Mesin (SKM / Sigaret Kretek Mesin dan SPM / Sigaret Putih Mesin), Sampoerna perlu mengantisipasi tantangan di tahun mendatang, karena kenaikan tarif cukai di kedua segmen tersebut jauh di atas tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi, “jelasnya Bisnis, Senin (14/12/2020).

Penjual tersebut melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). – ANTARA / Muhammad Adimaja

Penjualan rokok terkikis

Hal ini terutama terkait dengan tren pergeseran pembelian atau downtrading dari segmen rokok dengan tarif cukai yang lebih tinggi dari kelas 1 ke tarif cukai yang lebih rendah di kelas 2 dan kelompok 3.

Perusahaan menyadari bahwa pemerintah telah mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan untuk menetapkan kebijakan dan menaikkan tarif cukai. Sementara itu, pandemi global menimbulkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik di sektor publik maupun swasta.

Untuk industri rokok sendiri, kinerja tahun 2020 sangat dipengaruhi oleh kenaikan tarif cukai tertinggi dalam 10 tahun terakhir, serta pandemi Covid-19.

Meski demikian, HMSP tetap berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah mengatasi pandemi Covid-19 dan program National Economic Recovery (PEN).

Hal ini tercermin dari berbagai inisiatif yang ditujukan kepada pemangku kepentingan, termasuk karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat luas yang tercermin dalam filosofi tiga tangan perusahaan.

Sedangkan PT Bentoel Internasional Investama Tbk. (RMBA) atau Bentoel Group mengakui pihaknya sebenarnya berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih mendukung pemulihan dan keberlanjutan industri tembakau, yakni dengan menaikkan cukai sekitar satu digit.

Mercy Francisca Hutahaean, Legal & External Affairs Director Bentoel Group mengatakan, berdasarkan estimasi Direktorat Bea dan Cukai, kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen telah menyebabkan penurunan volume industri tembakau sebesar 15 persen dan penerimaan pemerintah akan meningkat. tidak mengalami pertumbuhan pada tahun 2020.

“Dengan segmen SKM dan SPM menguasai 80 persen dari total pasar dan cukai di segmen tersebut dinaikkan sekitar 17-18 persen mulai 1 Februari 2021, tentunya volume industri akan kembali mengalami penurunan yang cukup signifikan di tahun 2021,” dia menjelaskan kepada Bisnis pada Selasa (15/12/2020).

Perseroan memprediksikan tren tahun 2020 akan berlanjut di tahun depan dengan perkembangan rokok dengan harga yang lebih rendah dan tar yang lebih tinggi, serta rokok ilegal akan terus tumbuh.

Perseroan juga menilai kondisi Covid-19 yang berkepanjangan hingga 2021 akan terus menjadi faktor yang memperburuk kondisi tersebut.

“Tahun 2021 akan memberikan lebih banyak tantangan bagi perusahaan kami dan juga bagi industri tembakau secara umum,” lanjut Mercy.

Pihaknya juga perlu mempertimbangkan kembali semua rencana investasi baru di Indonesia setelah mendengar pengumuman kenaikan tarif cukai.

Pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif cukai untuk setiap jenis rokok sebesar 12,5 persen. Selain mempertimbangkan masalah kesehatan, peningkatan ini juga menilai perlindungan pekerja, petani dan industri.

Berikut 3 prinsip utama cukai hasil tembakau pada tahun 2021:

1. Kenaikan cukai per jenis rokok
Secara rinci, kenaikan tarif cukai untuk Sigaret Putih Mesin (SPM) adalah
Sebuah. SPM kelompok I sebesar 18,4 persen.
b. SPM kelompok IIA sebesar 16,5 persen.
c. SPM kelompok IIB sebesar 18,1 persen.

Sedangkan Sigaret Kretek Mesin (SKM) adalah sebagai berikut:
Sebuah. SKM untuk kelompok I sebesar 16,9 persen.
b. SKM untuk kelompok IIA sebesar 13,8 persen.
c. SKM untuk kelompok IIB sebesar 15,4 persen.

2. Rokok Kretek Tangan tidak naik

3. Besarnya harga jual eceran di pasaran sesuai dengan kenaikan tarif tiap jenis rokok.

Konten Premium

Masuk / Daftar


Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, bantu donasi sekarang! Klik di sini untuk lebih jelasnya.

Source