Tentang Rp. Tagihan listrik 68 juta, PLN mengungkapkan meteran itu dipasangi kabel jumper

JAKARTA, KOMPAS.com – Unggahan seorang pelanggan PT PLN (Persero) yang mengalami lonjakan tagihan listrik sebesar Rp. 68 juta ramai dibicarakan di media sosial beberapa hari lalu.

Postingan tersebut ditulis oleh akun Twitter bernama @melaniepucchino yang mengeluhkan pembengkakan tagihan ke PLN, padahal biasanya ia hanya perlu membayar Rp 500.000 – Rp 700.000 setiap bulannya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan kenaikan tersebut disebabkan adanya indikasi ketidaksesuaian hasil Pengendalian Konsumsi Listrik (P2TL) yang mengakibatkan pelanggaran kategori P2 dengan besaran tagihan tambahan (TS) sesuai ketentuan.

Pelanggaran P2 adalah pelanggaran yang mempengaruhi pengukuran energi.

Menurut dia, meteran yang digunakan pelanggan itu dibuat oknum-oknum bukan untuk menghitung pemakaian listrik.

“Rumah yang dimaksud kena P2TL. Ada meteran sepertinyapengobatan Agar tidak terukur, ”ujarnya kepada Kompas.com, Senin (18/1/2021).

Baca juga: Digugat Pengusaha asal Surabaya, Antam mengaku tak pernah menjual emas dengan potongan harga

Lebih lanjut Bob menjelaskan, pihaknya telah melakukan uji meteran listrik di laboratorium PLN disaksikan langsung oleh pelanggan yang bersangkutan.

Hasil pengujian menunjukkan, pada meteran listrik yang bersangkutan terdapat kabel jumper pada terminal arus masuk dan keluar.

“Berdasarkan hasil pengujian, pelanggan menjelaskan adanya pelanggaran kategori P2 pelanggaran dengan TS P2TL sebesar Rp 68.051.521,” ujarnya.

Dengan temuan tersebut, Bob membantah pernyataan pelanggan yang khawatir PLN telah memerasnya.

Bob mengklaim, pihaknya telah melakukan good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik (GCG).

Dan setiap tahun kami diperiksa oleh BPK dan KAP, katanya.

Baca juga: Antam Segera Ajukan Banding Gugatan Emas 1,1 Ton

Source