Tak ada ampun, saham Bank Mini Babak Belur mendapat ARB

Jakarta, CNBC Indonesia – Bagikan rombongan Mini bank (bank bermodal inti Rp 1 – 5 triliun) kembali masuk zona merah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (23/3/2021). Beberapa di antaranya tercatat melakukan touch down auto rejection (ARB).

Pelaku pasar tampaknya sudah mulai meninggalkan saham-saham bank bermodal ‘ketat’ tersebut pada pekan lalu.

Berikut pergerakan saham mini bank pagi ini, pukul 09.13 WIB, serta kinerja saham minggu ini.

Dari tabel di atas, terdapat empat mini bank saham yang menyentuh ARB yaitu AGRS, BVIC, BNBA dan BMAS.

Dalam sepekan, 10 dari 11 emiten mengalami penurunan yang cukup besar, berkisar antara 6% -29%. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku pasar tampak sibuk menjual saham mini bank, setelah setidaknya dalam sebulan terakhir bank yang ‘kekurangan uang’ ini telah ‘terbang’ tinggi.

Saham AGRS merupakan saham yang paling banyak terpuruk dan menyentuh ARB yaitu sebesar 6,87% menjadi Rp 610 / saham. Dalam seminggu pangsa ini turun 24,22%.

Praktis, sejak suspensi saham dibuka BEI pada 18 Maret pekan lalu, saham AGRS selalu berkubang di zona merah.

Sebelumnya, otoritas bursa ‘mengunci’ saham AGRS pada 8 Maret 2021 setelah saham ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Sebelumnya, melalui keterbukaan informasi awal bulan ini, AGRS berkomitmen menjadi bank BUKU III dengan mematuhi ketentuan modal inti minimum OJK.

Melalui tanggapan tertulis ke BEI pada 8 Maret lalu, manajemen perseroan juga membantah isu akuisisi unicorn dan rencana masuk bank digital.

Sementara itu, dalam materi PE insidental pada 15 Maret 2021, AGRS menjelaskan akan menambah saham baru. Hal tersebut sesuai dengan rencana sebelumnya yang dijelaskan dalam keterbukaan informasi pada 8 Desember tahun lalu. AGRS akan melakukan penawaran umum terbatas melalui rights issue dengan menerbitkan sekitar 7,28 miliar saham baru.

Di urutan kedua, saham BVIC juga menyentuh ARB setelah turun 6,84% menjadi Rp. 177 / bagikan. Dalam seminggu saham ini telah turun 29,20%.

Dengan demikian, sejak suspensi dibuka pada 12 Maret lalu, saham ini terus berada di zona merah.

Sebagai informasi saja, bursa sementara menghentikan sementara perdagangan saham BVIC pada 2 Maret 2021 setelah saham ini melesat dan bergerak liar.

Sebelumnya, manajemen BVIC menjelaskan perseroan berupaya memenuhi ketentuan modal inti minimum OJK. Ini dilakukan dengan cara mengeluarkan saham baru masalah hak sampai 2022.

Selain itu, BVIC juga menegaskan perseroan tidak berencana menjadi bank digital dan tidak ada unicorn yang berniat mengakuisisi saham di perseroan.

Peningkatan saham mini bank belakangan ini didorong oleh narasi sentimen bank digital dan regulasi pemenuhan modal inti oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui POJK Nomor 12/2020.

Peraturan tersebut mewajibkan bank untuk memiliki modal inti bank umum minimal Rp1 triliun pada tahun ini, Rp2 triliun pada tahun 2021, dan minimal Rp3 triliun pada tahun 2022. Dengan ketentuan tersebut, bank bermodal mini harus mencari investor strategis untuk menyuntikkan modal.

Isu bank digital direspon oleh sejumlah mini bank melalui keterbukaan informasi di situs BEI. BBHI, BACA dan BBYB, misalnya, berencana masuk ke bank digital.

Namun, ada juga sejumlah mini bank lain yang menolak bertransformasi menjadi bank digital, seperti BGTG dan Maspion Bank (BMAS). Sedangkan ARTO dan AMAR saat ini terdaftar sebagai bank digital.

[Gambas:Video CNBC]

(adf / adf)


Source