Sunshine Faster Mematikan Virus Covid-19

Jakarta, CNBC Indonesia – Para ahli mengatakan bahwa sinar matahari memiliki fungsi untuk melawan Covid-19. Bahkan delapan kali lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

“Teori mengatakan bahwa inaktivasi bekerja dengan membuat UVB mengenai RNA di dalam virus, merusaknya,” kata Insinyur Mekanik UC Santa Barbara, Paolo Luzzatto-Fegiz, dikutip dari Science Alert, Senin (12/4/2021).

Sinar UV memiliki kemampuan untuk segera diserap oleh basa asam nukleat tertentu dalam DNA dan RNA yang membuatnya terikat dengan cara yang sulit diperbaiki. Tetapi tidak semua sinar UV sama, karena gelombang panjang yang disebut UVA tidak memiliki energi untuk memicunya.

Gelombang menengah UVB-lah yang memiliki kemampuan untuk membunuh mikroba dan membuat sel berisiko rusak akibat sinar matahari. Sedangkan gelombang pendek, UVC telah terbukti melawan virus termasuk SARS-CoV-2.

Namun jenis sinar UV tersebut tidak masuk ke permukaan bumi karena adanya lapisan ozon.

“UVC bagus untuk rumah sakit. Tetapi untuk lingkungan lain, seperti dapur atau kereta bawah tanah, UVC dapat berinteraksi dengan partikulat untuk menghasilkan ozon yang berbahaya,” kata penulis dan ahli toksologi Oregon State University, Juli McMurry.

Penelitian sebelumnya pada Juli 2020 mengatakan virus itu tidak aktif ketika terkena sinar matahari antara 10 dan 20 menit. Mereka meneliti dampak sinar matahari pada simulasi saliva.

Untuk studi terbaru ini, Paolo Luzzatto-Fegiz dan timnya membandingkannya dengan teori bagaimana sinar matahari dapat mencapainya.

Mereka menemukan virus SARS-CoV-2 tiga kali lebih sensitif terhadap sinar UV di bawah sinar matahari daripada influenza. Partikel virus dikatakan 90% tidak aktif setelah setengah jam terpapar sinar matahari selama hari-hari musim panas.

Hasil ini sangat berbeda dengan temuan musim dingin. Karena saat itu, partikel yang terinfeksi bisa tetap utuh selama berhari-hari.

Perhitungan oleh tim terpisah menemukan molekul RNA dalam virus rusak dalam cahaya. Ini lebih efektif pada gelombang pendek seperti UVC dan UVB.

Namun karena UVC tidak masuk ke bumi, maka perhitungannya didasarkan pada bagian UVB. “Inaktivasi simulasi saliva delapan kali lebih cepat dari yang diperkirakan dalam teori. Jadi para peneliti belum tahu apa yang terjadi,” kata Luzzatto-Fegiz.

Khusus untuk panjang gelombang panjang UVA bisa melawan SARS-CoV-2 juga, katanya diperlukan penelitian tambahan.

“Analisis kami menunjukkan bahwa kami perlu menambahkan eksperimen terpisah untuk melihat efek gelombang cahaya panjang dan komposisi medianya,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]

(roy / roy)


Source