Stok Batu Bara Naik & Harga Melonjak, Apa Penyebabnya?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga saham emiten batu bara mulai bergerak pada awal sesi perdagangan I Jumat (5/2/2021). Kenaikan harga saham batubara dipicu oleh kenaikan harga batubara referensi dalam negeri (HBA).

Pantau pergerakan saham batubara pada perdagangan sesi I pukul 09.10 WIB hari ini.

Berdasarkan data RTI, pada pukul 09.10 WIB, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menempati posisi pertama penguatan saham batu bara pada sesi perdagangan pertama hari ini.

Saham BUMI sudah melonjak 5,36% ke posisi Rp 59 / unit pagi tadi. Nilai transaksi saham BUMI pagi ini mencapai Rp 19,4 miliar dan volume transaksinya sebanyak 332 juta saham. Namun, investor asing melakukan penjualan bersih (penjualan bersih) di pasar reguler sebesar Rp 419,73 juta.

Selanjutnya di posisi kedua, saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melesat 4,58% ke level Rp 320 / unit pada pukul 09.10 WIB. Nilai transaksi saham BUMI pagi ini mencapai Rp 27 miliar dan volume transaksinya sebanyak 85,5 juta lembar saham. Investor asing juga menjual bersih (penjualan bersih) di pasar reguler sebesar Rp 471,44 juta.

Sedangkan keuntungan terkecil dibukukan oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang naik 2,58% menjadi Rp 1.195 / unit dengan nilai transaksi pagi ini Rp 55,8 miliar. Volume transaksi yang diperdagangkan mencapai 47,4 juta lembar saham.

Berbeda dengan BUMI dan DOID, saham ADRO asing telah memasuki pasar reguler sebanyak Rp 1,24 miliar pagi ini.

Lonjakan stok batubara tersebut disebabkan oleh kenaikan harga batubara acuan (HBA) pada Februari 2021 yaitu melonjak ke posisi US $ 87,79 per ton atau naik 15,75% dari posisi harga Januari 2021 sebesar US $ 75,84 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Pelayanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Agung Pribadi mengatakan, kenaikan itu dipicu sentimen yang terbentuk dari siklus super komoditas.

“Adanya sentimen komoditas supercycle, termasuk kenaikan harga gas, turut memperkuat harga batu bara,” kata Agung seperti dikutip keterangan resmi dari Kementerian, Kamis (4/2/2021).

Agung menuturkan, sinyal supercycle ini diyakini terjadi tahun ini di berbagai komoditas, terutama komoditas pertambangan. Salah satu pemicunya berasal dari suku bunga acuan yang rendah, dolar AS yang lemah, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur di berbagai negara.

Lebih lanjut dia mengatakan selain faktor supercycle, meningkatnya permintaan impor batu bara dari China juga turut mendorong peningkatan HBA.

“Pasokan batu bara dalam negeri (China) tidak bisa memenuhi kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik,” ujarnya.

Harga batu bara telah pulih dan berangsur naik dalam empat bulan terakhir setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Pada Oktober 2020 HBA berada di US $ 51 per ton, kemudian naik pada November 2020 ke posisi US $ 55,71 per ton, dan pada Desember 2020 naik menjadi US $ 59,65 per ton. Kemudian naik kembali pada Januari 2021 ke posisi US $ 75,84 per ton.

“Selama empat bulan terakhir, harga batu bara terus bergerak ke level psikologis,” jelasnya.

Sebagai informasi, perubahan HBA juga disebabkan oleh faktor turunan penawaran dan faktor turunan permintaan.

Faktor turunan pasokan dipengaruhi oleh cuaca, teknik pertambangan, kebijakan negara pemasok, hingga teknis dalam rantai pasokan seperti kereta api, tongkang, dan terminal bongkar muat (terminal pemuatan).

Sedangkan faktor turunan permintaan dipengaruhi oleh penurunan permintaan listrik yang berkaitan dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan persaingan dengan komoditas energi lainnya, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nanti, HBA Februari ini akan digunakan untuk menentukan harga batu bara di titik penyerahan penjualan Gratis di Papan di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

[Gambas:Video CNBC]

(chd / chd)


Source