Sistem kesehatan Indonesia di ambang lonjakan virus korona, Health News, ET HealthWorld

Sistem kesehatan Indonesia di ambang batas seiring gelombang virus korona membayangi Oleh Tom Allard dan Stanley Widianto

JAKARTA: Indonesia mengalami defisit yang signifikan di tempat tidur rumah sakit, staf medis, dan fasilitas perawatan intensif karena para ahli kesehatan memperingatkan bahwa negara itu siap menjadi pusat baru pandemi virus corona, menurut data yang ditinjau oleh Reuters.

Pakar kesehatan mengatakan Indonesia menghadapi lonjakan kasus virus korona setelah respons pemerintah yang lambat menutupi skala wabah di negara terpadat keempat di dunia itu.

Indonesia telah mencatat 686 kasus tetapi data tersebut dianggap tidak terlalu penting dalam skala infeksi karena tingkat pengujian yang rendah dan tingkat kematian yang tinggi. Indonesia telah melaporkan 55 kematian, tertinggi di Asia Tenggara.

Sebuah studi oleh Center for Mathematical Modeling of Infectious Diseases yang berbasis di London yang dirilis pada hari Senin memperkirakan bahwa sedikitnya 2% dari infeksi virus corona di Indonesia telah dilaporkan. Itu akan membuat angka sebenarnya menjadi 34.300, lebih banyak dari Iran.

Pemodel lain memproyeksikan bahwa kasus dapat meningkat menjadi sebanyak 5 juta di ibu kota, Jakarta, pada akhir April di bawah skenario terburuk.

“Kami telah kehilangan kendali, itu telah menyebar ke mana-mana,” Ascobat Gani, seorang ekonom kesehatan masyarakat mengatakan kepada Reuters. “Mungkin kami akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kami berada di kisaran itu”.

Pemerintah mengatakan dampak virus tidak akan terlalu parah.

“Kami tidak akan seperti itu,” kata Achmad Yurianto, pejabat senior kementerian kesehatan, merujuk pada perbandingan wabah di Italia dan China.

“Yang penting adalah kami mengumpulkan orang-orang … mereka harus menjaga jarak.”

DOKTER PEWARNA

Sistem kesehatan Indonesia sangat buruk dibandingkan dengan negara lain yang terkena virus.

Negara berpenduduk lebih dari 260 juta orang itu memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit, menurut data kementerian kesehatan. Itu berarti sekitar 12 tempat tidur per 10.000 orang. Korea Selatan memiliki 115 per 10.000 orang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada 2017, WHO menemukan Indonesia memiliki empat dokter per 10.000 orang. Italia memiliki 10 kali lebih banyak, per kapita. Korea Selatan memiliki enam kali lebih banyak dokter.

Yurianto mengatakan dengan langkah-langkah jarak sosial yang tepat seharusnya tidak perlu ada banyak tempat tidur tambahan dan staf medis cukup untuk menangani virus.

Namun, Budi Waryanto, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, mengatakan kepada Reuters: “Rumah sakit belum siap untuk mendukung kasus-kasus potensial. Perawatan akan dibatasi.”

Meski hanya ratusan orang yang dirawat di rumah sakit karena virus corona, dokter mengatakan kepada Reuters bahwa sistem kesehatan sudah tertekan. Banyak staf kesehatan kekurangan peralatan pelindung, dengan seorang dokter memberi tahu Reuters bagaimana dia harus memakai jas hujan karena tidak ada baju yang tersedia.

Sebagai tanda pengendalian infeksi yang buruk di rumah sakit dan klinik, delapan dokter dan satu perawat telah meninggal akibat virus corona, menurut Ikatan Dokter Indonesia.

Di Italia, di mana ada 6.077 kematian akibat virus corona, 23 dokter telah meninggal.

‘KAMI MEMBAWA MASKER KAMI SENDIRI’

Staf di satu rumah sakit di pinggiran Jakarta mengancam tidak akan datang bekerja pada hari Selasa karena kurangnya peralatan pelindung, kata dokter lain kepada Reuters.

“Kami membawa masker kami sendiri, setelan kami sendiri yang mungkin tidak memiliki kualitas standar,” kata dokter tersebut kepada Reuters, meminta untuk tidak diidentifikasi karena sensitifnya masalah tersebut.

“Teman-temanku satu per satu tertular virus,” katanya sambil menahan air mata.

Pemerintah mengatakan minggu ini telah mendapatkan 175.000 set peralatan pelindung baru untuk staf medis yang akan didistribusikan ke seluruh negeri.

Sebuah rumah sakit darurat baru telah dibuka di Jakarta dengan kapasitas akhir untuk merawat hingga 24.000 pasien. Para dokter dan staf medis telah dijanjikan bonus dan 500.000 alat tes cepat telah tiba dari China.

Sistem kesehatan Indonesia sangat terdesentralisasi, sehingga sulit bagi pemerintah pusat untuk mengoordinasikan tanggapannya di seluruh kepulauan yang terdiri dari 19.000 pulau yang membentang sepanjang 5.100 km.

Kurangnya tempat tidur unit perawatan intensif (ICU) juga mengkhawatirkan para ahli, terutama karena negara tersebut memasuki musim demam berdarah puncak, yang menambah permintaan akan fasilitas tersebut.

“Jika Anda sakit kritis dan Anda bisa masuk ke ICU dan dipasang ventilator, kebanyakan orang harus bertahan hidup,” kata Archie Clements, seorang spesialis kesehatan masyarakat dari Universitas Curtin Perth, merujuk pada orang yang terinfeksi virus corona.

“Jika Anda tidak memasukkan mereka ke ICU dan memasang ventilator, mereka akan mati.”

Sebuah studi di jurnal Critical Care Medicine pada bulan Januari, yang membandingkan tempat tidur perawatan intensif untuk orang dewasa di negara-negara Asia menggunakan data tahun 2017, menemukan bahwa Indonesia memiliki 2,7 tempat tidur perawatan kritis per 100.000 orang, termasuk yang terendah di kawasan ini.

Source