Sebarkan Ujaran Kebencian dan Hoaks, Sekretaris FPI Munarman Polis

Jakarta, Beritasatu.com – Sekretaris Jenderal Front Pembela Islam (FPI) Munarman, dikabarkan terkait dugaan tindak pidana ujaran kebencian, menyiarkan berita bohong dan menghasut ke Pusat Pelayanan Terpadu Polisi (SPKT) Polda Metro Jaya.

“Pada hari ini, kami bersama para kiai di Tentara Kesatria Nusantara ingin menegakkan dan mencari keadilan untuk apa? Karena lidah seorang Munarman saat ini, rakyat kami bingung,” kata Zaenal Arifin, Ketua Front Kesatria Indonesia, di Polda Metro Jaya. , Senin (21/12/2020).

Zaenal mengatakan, pihaknya hanya mempercayai Polri sebagai lembaga negara dalam proses penegakan hukum. “Oleh karena itu pernyataan Munarman yang menyatakan bahwa yang meninggal (6 anggota FPI) tidak membawa senjata, yang mati tidak melawan aparat, sehingga harus dibuktikan dengan undang-undang,” ujarnya.

Keluhan Zaenal tercatat dalam laporan polisi nomor LP / 7557 / XII / YAN 2.5 / 2020 / SPKT PMJ. “Jadi diberitakan sebagai Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 UU ITE (UU Nomor 19 Tahun 2016), Pasal 14, Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana, Pasal 160 Pidana. Kode, kebohongan, hasutan, ujaran kebencian terhadap lembaga negara. Itu sangat berbahaya, “ujarnya.

Menurut Zaenal, warga sipil tidak bisa membenarkan sebelum ada keputusan hukum, apalagi jika tidak disertai alat bukti.

Yang dibenarkan tidak melawan aparat. Yang kedua tidak ada senjata, sedangkan polisi membuktikan senjatanya. Kalau disampaikan terus menerus, narasi dibangun, bisa mengakibatkan perkelahian, perpecahan bangsa. Siapa bilang polisi itu Dajjal, belum lagi demo bersama mereka. Mereka kasihan saudara-saudara kita. Kita berduka, tapi kita tidak bisa membenarkannya seperti itu sebelum ada keputusan hukum. Jadi biar proses hukum dulu. Kalau Masuk ke Hak Asasi Manusia, lalu ikuti dulu. HAM, “ujarnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Source