Santunan membantu menyembuhkan luka korban bom di Indonesia

Setelah menunggu selama 17 tahun, Tony Soemarno, salah satu korban bom Hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003, akhirnya mendapatkan ganti rugi dari pemerintah Indonesia.

Soemarno, 66, dan 16 korban lainnya secara simbolis menerima santunan dari Presiden Joko Widodo di Istana Presiden pada 16 Desember.

Dia adalah salah satu dari 215 korban dari 40 serangan teroris yang akan menerima total sekitar 39,2 miliar rupiah (US $ 2,8 juta) dari pemerintah Indonesia.

Setiap keluarga dari mereka yang terbunuh dalam pemboman akan menerima 250 juta rupiah ($ 17.857), sedangkan mereka yang terluka parah akan mendapatkan 210 juta rupiah ($ 15.000). Korban yang menderita luka sedang akan menerima 115 juta rupiah ($ 8.214) dan mereka yang menderita luka ringan akan mendapatkan 75 juta rupiah ($ 5.357).

Kompensasi tersebut mencakup serangan teroris dari tahun 2002-17 termasuk bom Bali pertama dan kedua pada tahun 2002 dan 2005, pemboman di pusat komersial Jakarta pada tahun 2016, dan pemboman di sebuah gereja Protestan di Samarinda di provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2016.

Misi Di Asia

Katolik di Tiongkok Abad 21

Baca Esai Misi di Asia

Serangan itu dilakukan oleh anggota Jemaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Daulah yang terkait dengan Negara Islam.

“Saya berterima kasih kepada Presiden Jokowi karena telah menunjukkan kepedulian kepada para korban. Saya telah menunggu selama 17 tahun, ”kata Soemarno, seorang Muslim, kepada UCA News. “Beberapa korban menolak santunan karena masih trauma dan membuka luka.”

Ia mengatakan, kompensasi tersebut merupakan jumlah ketiga yang diberikan pemerintah kepada korban bom dan tahun ini banyak korban yang menerimanya langsung dari Presiden.

Tahun lalu, katanya, pemerintah memberikan kompensasi kepada 16 korban pemboman di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada 2018 dengan total 1 miliar rupiah ($ 78.570) melalui Badan Perlindungan Saksi dan Korban yang dikelola negara.

Pada 2018, badan tersebut memberikan dana sekitar 1,8 miliar rupiah kepada 17 korban bom di tiga lokasi di Jakarta dan Sumatera Utara.

“Aksi terorisme tidak hanya menimbulkan kerugian psikologis bagi masyarakat tetapi juga kerugian fisik bagi para korban, tetapi saya sudah memaafkan pelakunya,” kata Soemarno.

Saat bom mengguncang Hotel Marriott pada 5 Agustus 2003, Soemarno sedang menunggu di basement hotel tempat ia bertemu klien.

Sebuah bom meledak dan menewaskan 12 orang serta melukai 156 orang lainnya termasuk dirinya. Dia menderita luka bakar dan kepalanya terluka parah oleh lampu langit-langit. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat.

“Saya tidak sadarkan diri. Tangan dan punggung saya mengalami luka bakar sekitar 40 persen,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia membutuhkan satu tahun untuk pulih dari luka-lukanya. Dia juga memiliki 17 jahitan di kepalanya.

Pada 2009, ia menggagas Perhimpunan Korban Bom Terorisme di Indonesia untuk mengumpulkan para korban dan keluarganya serta kerabat mereka yang tewas. Beranggotakan 690 orang, sebagian besar orang Indonesia dengan beberapa orang asing, sementara korban lainnya memilih untuk tidak bergabung.

Tujuan dari paguyuban tersebut, kata dia, untuk saling menguatkan dan saling membantu dalam upaya pemulihan dari trauma tersebut.

Denny Wahyu, seorang polisi Muslim yang terluka dalam serangan bom di pusat perbelanjaan Sarinah di Jakarta pada awal 2016, mengatakan berterima kasih kepada pemerintah, khususnya Presiden Widodo, yang telah merawat mereka.

“Saya berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah memberikan kompensasi kepada kami,” katanya kepada UCA News, seraya menambahkan bahwa “bukan jumlah yang penting tetapi rasa hormat pemerintah terhadap korban.”

“Saya senang mendapat perhatian dari pemerintah,” kata Wahyu, yang mengatur lalu lintas saat ledakan terjadi, menewaskan tujuh orang termasuk lima teroris.

Serangan itu menyebabkan kerusakan permanen pada telinga kanannya dan kaki kanannya mengalami luka bakar.

Bagi Wahyu dan Soemarno, kompensasi tersebut menunjukkan bahwa negara sadar akan penderitaan mereka.

“Besarnya santunan tidak sebanding dengan penderitaan para korban, termasuk saya. Yang terpenting, meningkatkan semangat dalam diri kita untuk tidak berhenti berharap, ”kata Wahyu.

Presiden Widodo menandatangani undang-undang tahun 2018 yang memberikan kompensasi kepada korban bom. “Itu sebagai bentuk kepedulian dan kewajiban pemerintah kepada para korban yang sudah bertahun-tahun menunggu santunan,” ujarnya.

Ia berharap bisa menghidupkan kembali jiwa manusia yang hilang akibat serangan tersebut. “Nilai ganti rugi yang diberikan negara tidak sebanding dengan penderitaan para korban, tapi pemerintah berharap bisa membantu mereka yang terdampak,” kata Widodo.

Hasto Atmojo Suroyo, Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi 215 korban untuk menerima kompensasi. Dia mengatakan daftar tersebut belum final dan kompensasi akan dilanjutkan karena lebih banyak korban yang diverifikasi.

“Kami berharap santunan yang diterima para korban bisa digunakan untuk memulihkan kondisi ekonomi mereka,” ujarnya.

Source