Reshuffle membawa kepastian, IHSG berpeluang berayun

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan nasional kompak kemarin terkoreksi menyusul sentimen negatif bursa global terkait penemuan varian baru virus Covid-19. Tapi hari ini, peluang untuk kebalikannya (melambung) setelah pengumuman perombakan dan pernyataan produsen vaksin Covid-19.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 2,32% pada posisi 6.023,29 pada perdagangan Selasa (22/12/2020), menjadi yang terlemah di antara bursa utama Asia. Sebanyak 123 saham naik, 397 lainnya jatuh, dan sisanya 111 stagnan. Nilai transaksi harian Rp. 20,5 triliun.

IHSG terpaksa keluar dari zona 6.100 setelah pelaku pasar disergap kekhawatiran akan ‘new corona’ yang merebak di Inggris sehingga investor melakukan aksi jual. Data perdagangan mencatat bahwa investor asing melakukan penjualan bersih (penjualan bersih) senilai Rp 694,4 miliar di pasar reguler.

Penjualan tersebut juga mendominasi pasar surat utang sehingga menyebabkan harga obligasi pemerintah Indonesia melemah. Hanya Surat Berharga Negara (SBN) tenor 25 tahun yang harganya masih kuat.

Hasil (menghasilkan) obligasi bertenor 10 tahun yang menjadi benchmark pasar naik 9,4 basis poin (bp) menjadi 6,132%. Yield SBN seri FR0082 pada akhir tahun lalu berada di level 7,098%.

Imbal hasil bergerak berlawanan arah dari harga, sehingga imbal hasil yang lebih kuat menunjukkan melemahnya harga obligasi. Begitu juga sebaliknya. Perhitungan yield menggunakan referensi basis poin (bp) yang setara dengan 1/100.

Rupiah juga menghadapi situasi yang sulit kemarin. Meluncurkan data Refinitiv, Mata Uang Garuda membuka perdagangan stagnan di level Rp. 14.100 / US $, dan kemudian disusutkan sebesar 0,35% menjadi Rp. 14.150 / US $. Pada penutupan, gerusan sedikit surut menjadi hanya 0,32% ke level Rp 14.145 per dolar AS.

Tapi Rupiah tidak sendiri. Mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS dengan depresiasi terparah (hingga pukul 15:11 WIB) mengalahkan won Korea Selatan dan baht Thailand yang melemah 0,47%.

Koreksi kemarin mengindikasikan pelaku pasar terlalu khawatir dengan varian Covid-19 yang dapat mengancam pemulihan ekonomi global, sehingga mereka meninggalkan aset negara berkembang seperti Indonesia dan kembali berburu aset di negara maju berbasis dolar AS.

Source