Putra Menlu Jadi Bos, Awas … Saham BANK Melonjak 2.800%

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) atau sekarang namanya PT Bank Aladin Syariah Tbk pagi ini melesat 3,36% menjadi Rp 2.990 / saham pada perdagangan pukul 9:18 WIB, Senin (12/4/2021).

Data BEI mencatat bahwa saham BANK yang ditransaksikan mencapai Rp. 80 miliar dengan volume perdagangan 27 juta saham. Kapitalisasi pasar bekas bank Maybank Syariah ini mencapai Rp 39,45 triliun.

Sejak mencatatkan penawaran umum perdana (IPO) pada 1 Februari 2021 di harga Rp 103 / saham, kini harganya melonjak 2.705% menjadi Rp 2.890 / saham pada perdagangan Jumat lalu (9/4/2021). Jika dihitung pagi ini, saham BANK sudah melejit 2,802%.

Perseroan baru saja berganti nama menjadi Bank Aladin Syariah pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Rabu (7/4/2021).

Tidak hanya itu, RUPSLB juga menyepakati pengangkatan empat anggota direksi dan satu komisaris utama baru yang berlaku efektif setelah lulus fit and proper test dan telah mendapat surat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Beberapa nama yang menjadi sorotan yakni Dyota Marsudi selaku Direktur Utama dan saat ini sedang menunggu hasil fit and proper test OJK.

Dyota merupakan putra Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi. Retno menikah dengan Agus Marsudi, seorang arsitek, dan memiliki dua orang anak, yakni Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi. Dyota menggantikan posisi Direktur Utama BANK yaitu Basuki Hidayat.

Nama lain yang juga menjadi sorotan adalah Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa yang merupakan Komisaris Utama (Independen) menggantikan Ationo Teguh Basuki yang menjadi komisaris. Alvin sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi (November 2017-Maret 2021).

Kemudian mata publik juga dikejutkan dengan bergabungnya tiga layanan transaksi digital eks OVO (PT Visionet International) yang didirikan Grup Lippo kepada Bank Aladin.

Mereka adalah Firdila Sari sebagai Direktur Digital Banking, Willy Hambali sebagai Direktur Keuangan dan Strategi, dan Budi Kusmiantoro sebagai Direktur Teknologi Informasi. Semuanya masih menunggu hasil fit and proper test OJK.

“Kami melihat Aladin sebagai brand yang memenuhi kriteria ramah di telinga masyarakat, mudah diingat, memiliki pergaulan yang positif tetapi tidak eksklusif untuk kelompok tertentu,” ujar Dyota, Presiden Direktur Bank Aladin Syariah yang baru, dalam keterangannya, dikutip Senin (12/4). / 2021).

“Kalau dilihat dari suku kata, Aladin memiliki arti yang dalam. Ala artinya dengan atau di atas. Sedangkan Din berarti jalan hidup atau keyakinan,” kata Dyota.

Dyota yang merupakan mantan Senior Executive Director Investments di Vertex Ventures, Singapura, mengatakan Aladin diharapkan dapat menjadi representasi brand yang dinamis dan mampu merangkul berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang.

“Perubahan nama ini tidak hanya sekedar proses perubahan nama dan logo, tetapi juga transformasi diri menjadi bank yang lebih relevan, merangkul dan mendekatkan diri dengan masyarakat saat ini melalui pendekatan digitalisasi. Selain itu, kami juga berkomitmen untuk menyediakan layanan terbaik untuk semua pelanggan kami, “lanjut Dyota.

Dengan perubahan ini, nama perusahaan berubah lima kali. Bank Net Indonesia Syariah sebelumnya bernama Bank Maybank Syariah Indonesia. Perusahaan ini pertama kali dibentuk dengan nama PT Bank Maybank Nusa International, di Jakarta pada tanggal 16 September 1994.

Dalam prospektus perseroan disebutkan, pada 1994, pemegang saham bank saat itu adalah PT Bank Nusa International 21%, dan Malayan Banking Berhad dari Malaysia 79%.

Pada tahun 2000, perseroan berganti nama menjadi PT Bank Maybank Indocorp dengan pengalihan kepemilikan saham Bank Nusa Nasional kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), kemudian menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia melalui Asset Management. Perusahaan (Persero).

Kemudian, 10 tahun kemudian, pada tahun 2010, perseroan kembali berganti nama dari Bank Maybank Indocorp menjadi Bank Maybank Syariah Indonesia seiring dengan perubahan bisnis dari bank umum konvensional menjadi bank umum syariah.

Pada 2019 perseroan bertransformasi menjadi PT Bank Net Indonesia Syariah setelah pengambilalihan 100% saham perseroan oleh PT NTI Global Indonesia dan PT Berkah Anugerah Abadi (BAA). Terakhir, minggu lalu Bank Net Indonesia Syariah menjadi Bank Aladin Syariah.

Sebelumnya, Anggaraksa Arismunandar, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, mengatakan saham mini bank di luar bank dengan kapitalisasi pasar besar menarik minat investor ritel untuk memanfaatkan momentum bank digital.

Bank kecil yang dimaksud adalah bank mini dengan modal inti Rp 1-5 triliun (BUKU II) yang mengejar kewajiban modal minimum Rp 2 triliun tahun ini dan Rp 3 triliun tahun depan sesuai ketentuan OJK.

“Mungkin [ada sentimen] masuknya investor strategis, seperti masalah grup Shopee [Sea Group] masuk tetapi tidak untuk berdagang. Tapi jangka panjang [cocok investasi], ”jelasnya dalam program Waktu Investasi CNBC Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]

(tas tas)


Source