Program Biodiesel Penghematan Devisa USD 8 Miliar

Memuat …

JAKARTA Program biodiesel akan terus ditingkatkan untuk membantu pemerintah dalam menghemat devisa dan mengurangi impor solar. Tahun ini, program B30 diproyeksikan dapat menghemat devisa hingga USD8 miliar.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah petani yang terlibat dalam program wajib biodiesel di di pertanian sekitar 1.198.766 petani dan seterusnya di luar pertanian sekitar 9.046 orang pada tahun 2020.

(Baca Juga: Minyak Sawit Tak Hanya Bermanfaat untuk Campuran Biodiesel, Simak Manfaat Lainnya!)

“Kementerian berusaha mencari upaya untuk meningkatkan partisipasi petani secara wajib,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dadan Kusdiana dalam Webinar bertema “The Masa Depan Biodiesel Indonesia: Pembicaraan Pakar Beragam Perspektif “.

Dadan mengatakan pemanfaatan produk kelapa sawit dan limbah sebagai sumber energi berkontribusi terhadap pencapaian target bauran energi terbarukan. Selain itu dapat meningkatkan ketahanan energi berbasis sumber daya alam di dalam negeri.

“Dari aspek lingkungan, program B30 merupakan bagian dari Paris Agreement, salah satu upaya sektor energi untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca,” kata Dadan.

(Baca juga: Wamendag Optimis Republik Indonesia Raih Gugatan Biodiesel Sawit di WTO)

Dalam pandangan Dadan Kusdiana, peningkatan nilai tambah akan baik dipadukan dengan program bioenergi. Langkah ini merupakan strategi yang tepat karena menumbuhkan industri pendukung seperti industri metanol, baik berbasis gas bumi maupun batu bara.

Target Wajib Biodiesel berdasarkan Permen ESDM No.12 / 2015. Mulai 1 Januari 2020, Wajib B30 akan diterapkan untuk semua sektor. Pemerintah telah menetapkan standar mutu spesifikasi produk melalui SNI untuk menjaga mutu dan melindungi konsumen. Kementerian ESDM akan mulai memperkenalkan prinsip keberlanjutan, jelasnya.

(Baca juga: Harga Biodiesel di Bulan Desember Naik Jadi Rp9.505 / liter)

Hingga tahun ini, kapasitas terpasang produksi biodiesel sudah mencapai 12,6 juta Kl. Ada 27 badan usaha yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengungkapkan indeks ketahanan energi Indonesia sebesar 6,57 dinilai baik karena pasokan energi terbarukan yang cukup melimpah, salah satunya biodiesel.

(Baca juga: Ironisnya, petani sawit mensubsidi industri biodiesel)

Program wajib biodiesel mengurangi konsumsi solar sekitar 7,2 juta KL pada 2019 dan menghemat devisa USD2 miliar atau Rp28 triliun. “Tahun ini program B30 diproyeksikan bisa menghemat devisa US $ 8 miliar,” kata Djoko.

Penggunaan biodiesel (B30) menunjukkan penurunan emisi rata-rata 25,35% CO, 10,82% NOx + THC, 42,02% bahan partikulat, dan opasitas 23,5% dibandingkan emisi yang dihasilkan dari penggunaan solar.

(Baca juga: Dukung Energi Hijau, Produsen Biodiesel Terus Tingkatkan Kapasitas Produksi)

Peneliti INDEF Fadhil Hasan menjelaskan bahwa pemerintah sedang berupaya untuk mengurangi jumlah insentif biodiesel melalui tiga strategi kebijakan. Pertama, pemerintah mengubah rumus penghitungan HIP Biodiesel untuk mengurangi selisih / subsidi biodiesel.

Kedua, pungutan ekspor (retribusi) terbaru diterapkan secara progresif sesuai dengan PMK 191/2020. Pungutan ekspor diharapkan mampu menjaga momentum hilir industri turunan sawit dalam negeri.

(Baca juga: Peneliti Korea Membuat Biodiesel dari Kardus Bekas)

Kebijakan ketiga, program B-40 akan dilaksanakan pada Juli 2021. Sebagai catatan, bauran kebijakan ini merupakan sentimen positif bagi keberlangsungan program B-30 di Indonesia.

Fadhil menjelaskan ke depan program biodiesel sangat dipengaruhi oleh dinamika harga CPO dan minyak bumi. Oleh karena itu, selain menyesuaikan kebijakan pungutan ekspor, keberlanjutan program biodiesel sangat bergantung pada komitmen juga untuk mengkaji ulang kebijakan harga minyak bumi.

“Program B-30 memiliki risiko dan ketidakpastian jika hanya bertumpu pada kebijakan dari sisi PE dan industri sawit secara keseluruhan,” jelasnya.

Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia, Tatang Hernas Soerawidjaja mengatakan, masa depan bioenergi masih cerah asalkan kualitasnya lebih ideal. “Biodiesel merupakan bahan bakar terbarukan dan memanfaatkan bahan baku lokal,” kata Tatang.

Perkembangan biodiesel di Indonesia sangat menjanjikan. Semua bahan bakunya ada di sini. Di sisi lain, Indonesia kekurangan bahan baku Bahan Bakar Minyak (BBM).

Inovasi biofuel diperlukan untuk mengatasi defisit pasokan minyak bumi. Bahan baku biodiesel tidak harus mengandalkan kelapa sawit, tetapi dari bahan baku tanaman lain seperti pongan, nyamplung, dan kelor.

(dar)

Source