Profesor Unair Tanggapi Obat Viral Duphaston di Tiktok

Surabaya (beritajatim.com) – Obat Duphaston belum lama ini menjadi viral karena salah satu pengguna Tiktok mengklaim bahwa Duphaston memiliki banyak manfaat. Postingan Tiktok dalam bentuk video membahas beberapa kegunaan Duphaston.

Disebutkan, Duphaston adalah obat untuk haid tidak teratur, selaput rahim di luar rahim, nyeri, haid tidak subur, mencegah keguguran, dan mengobati gejala PMS (Premenstruation syndrome). Namun, dalam video tersebut tidak disebutkan konten dan bahkan efek samping yang ditimbulkannya.

Video tersebut mendapat tanggapan beragam dari pengguna Tiktok. Ada yang memberikan testimoni tentang obat tersebut. Beberapa bahkan bertanya di mana mereka bisa menemukannya.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Prof.Dr.Suharjono, MS., Apt., Mengatakan bahwa obat Duphaston tidak boleh sembarangan digunakan. “Obat ini adalah analog progesteron. Kegunaannya untuk menguatkan kandungan pada trimester pertama agar tidak mengalami keguguran, ”ujarnya, Kamis (4/2/2021).

“Obat ini termasuk obat keras. Tidak bisa digunakan sembarangan, harus dengan resep dokter. Umumnya yang meresepkan adalah dokter kandungan,” imbuhnya.

Prof. Dr. Suharjono, MS., Apt.

Prof Suharjono berpesan agar apoteker mengedukasi masyarakat dengan baik. Ada beberapa hal yang harus diberitahukan apoteker kepada masyarakat. Pertama, edukasi tentang keamanan obat.

“Edukasi yang disampaikan misalnya efek samping jika ada dan bagaimana cara menghindarinya. Kemudian jika ada efek samping disarankan melapor ke dokter yang memberi resep atau apoteker jaga,” ujarnya.

Kedua, edukasi tentang dosis yang harus dikonsumsi. Edukasi tentang dosis yang akan diminum, frekuensi, cara meminumnya sebelum atau sesudah makan, waktu yang tepat meminum obat pagi, sore, atau malam, cara meminumnya di bawah lidah, mengunyah, atau menelannya. utuh, “kata Prof. Suharjono.

Ketiga, durasi penggunaan narkoba. “Tidak semua obat digunakan secara terus menerus. Ada satu dosis, diulang beberapa hari hingga berbulan-bulan dan bertahun-tahun untuk penyakit infeksi seperti HIV / AIDS, penyakit tidak menular atau degeneratif seperti diabetes, hipertensi, epilepsi,” ujarnya.

“Masyarakat harus diberi edukasi bagaimana cara menyimpan obat dan cara mengulang mendapatkan obat. Jika masih ada sisa obat jangan mudah diberikan kepada orang lain,” tambah Prof. Suharjono.

Prof Suharjono pun berpesan agar masyarakat berhati-hati dalam membeli obat. Ingat, tidak semua obat bisa diperjualbelikan secara bebas. “Kalau butuh obat bisa datang menemui apoteker jaga. Tapi belilah obat yang sesuai indikasi dan aman terutama obat yang dijual bebas bukan obat keras,” terangnya.

Ia pun berharap masyarakat tidak mudah mempercayai semua informasi yang diberikan melalui media sosial dan harus lebih berhati-hati. “Masyarakat harus mengetahui siapa yang memberikan informasi dan identitasnya harus jelas,” pungkasnya. [adg/but]

Source