PM Malaysia melakukan perjalanan resmi pertama ke luar negeri – ke Indonesia, SE Asia News & Top Stories

PETALING JAYA • Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin melakukan perjalanan resmi pertamanya ke luar negeri.

Kunjungannya ke Indonesia kemarin melalui undangan khusus Presiden Joko Widodo merupakan kunjungan resmi pertamanya ke Indonesia sejak menjabat pada Maret lalu.

“Ada beberapa hal penting yang menyangkut kepentingan kedua negara yang memerlukan pembahasan lebih lanjut dan saling pengertian seperti kerja sama ekonomi, keamanan regional dan bilateral serta upaya bersama dalam memerangi pandemi Covid-19.

“Kedua pemimpin sepakat untuk bertatap muka,” kata Wisma Putra dalam sebuah pernyataan.

Terkait situasi Covid-19, ditambahkan bahwa Tan Sri Muhyiddin telah menginstruksikan bahwa kunjungannya akan kurang dari 24 jam.

“Untuk memenuhi kebutuhan logistik, Presiden Indonesia sendiri telah menginstruksikan tempat resmi kunjungan diadakan di Istana Merdeka di Jakarta, bukan di Istana Bogor, Jawa Barat,” katanya.

Pemimpin Malaysia itu didampingi oleh delegasi kecil yang terdiri dari Menteri Luar Negeri Hishammuddin Hussein – yang akan berdiskusi dengan mitranya dari Indonesia Retno Marsudi – dan pejabat senior pemerintah.

Mr Muhyiddin dijadwalkan untuk bertemu Pak Joko pagi hari ini dan melakukan sholat di Masjid Baiturrahim setelah pertemuan.

Dia akan disuguhi makan siang sebelum kembali ke Malaysia dan ditempatkan di bawah karantina wajib.

Pada pertemuan mereka, kedua pemimpin akan membahas tantangan umum pandemi, termasuk kerja sama di beberapa bidang utama.

Diantaranya adalah upaya memerangi diskriminasi internasional terhadap minyak sawit Malaysia dan Indonesia serta kabut asap lintas batas.

Agendanya juga akan melibatkan potensi bisnis Malaysia untuk memastikan keberhasilan implementasi rencana Indonesia untuk merelokasi ibukotanya dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

Mengenai pandemi, Wisma Putra mengatakan kedua negara akan mencari cara untuk mengintensifkan negosiasi Jalur Hijau Timbal Balik (RGL) untuk perjalanan dinas dan bisnis.

“Penting untuk disoroti bahwa negosiasi ini akan membahas prosedur operasi standar yang dapat disepakati oleh kedua negara,” tambah pernyataan itu.

Namun, Wisma Putra mengatakan RGL tidak akan segera dilaksanakan karena akan tunduk pada status Covid-19 dan persetujuan otoritas kesehatan kedua negara.

Mr Muhyiddin juga akan mempelajari praktik terbaik dalam penggunaan vaksin Covid-19 dari Indonesia mengingat negara tersebut telah mulai meluncurkan vaksinasi.

“Inisiatif berbagi pengetahuan ini akan menguntungkan Malaysia dengan program vaksinasi sendiri yang akan segera dimulai,” katanya.

THE STAR / ASIA NEWS NETWORK

Source