Pertumbuhan Ekonomi Digital Yang Pesat Dapat Menyebabkan Disparitas, Kata Sri Mulyani

TEMPO.CO, Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Selasa, 23 Maret lalu mengatakan, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dapat menyebabkan disparitas pendapatan dan menciptakan kesenjangan yang besar antara demografi terampil dan berpendidikan tinggi dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah.

“Adanya disparitas pendapatan bisa saja terjadi. Dan itu peringatan bagi diri saya sendiri sebagai Menteri Keuangan. Namun di sisi lain, teknologi digital juga berimplikasi,” kata Sri Mulyani dalam diskusi yang diadakan oleh Katadata pada tanggal 23 Maret.

Ia meyakini pemerintah harus mengambil keputusan dan kebijakan untuk memperkuat sumber daya manusia dan infrastruktur digital dari aspek fiskal yang dapat meminimalisir dampak gangguan teknologi.

Pada tahun 2021, instrumen APBN Indonesia akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur, termasuk jaringan BTS dan penetrasi sistem teknologi informasi.

Pandemi Covid-19 telah mempercepat laju transformasi digital dengan kecepatan yang belum pernah terlihat sebelumnya, terutama setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pandemi global dan mendorong pemerintah untuk memberlakukan pembatasan sosial.

Pada saat itu, bisnis, institusi pendidikan, dan banyak organisasi lainnya tiba-tiba bergantung pada teknologi. Karena itu, Sri Mulyani yakin pasar konvensional akan cepat beradaptasi dengan penjualan digital melalui platform e-commerce, yang meningkat sembilan kali lipat dari 2015 hingga 2020.

Baca: Tingkat Kemiskinan Indonesia Di Bawah Prediksi Bank Dunia, Kata Sri Mulyani

FRANCISCA CHRISTY ROSANA

Source