Pertanda buruk! Bursa Asia ‘On Fire’ Pagi Ini, Ada Apa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia dibuka melemah pada Senin (18/1/21), seiring para pelaku pasar menunggu dan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi di China yang akan dirilis pada pukul 10.00 waktu setempat atau 09.00 WIB.

Indeks Nikkei Jepang dibuka turun 0,98%, Hang Seng Hong Kong turun 0,42%, Shanghai Composite China turun 0,32%, Indeks Straits Times (STI) Singapura turun 0,32%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,19. %.

Pelaku pasar hari ini fokus pada data ekonomi China yang akan dirilis sekitar pukul 10:00 waktu setempat atau 09:00 WIB, termasuk data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat negara itu, serta produksi industri dan angka penjualan ritel untuk Desember 2020..

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa administrasi Trump memberi tahu beberapa pemasok raksasa telekomunikasi China Huawei bahwa mereka mencabut lisensi tertentu untuk dijual ke perusahaan China tersebut.

Beralih ke Bursa Efek Negeri Paman Sam, Wall Street ditutup terkoreksi pada perdagangan Jumat (15/1/21) akhir pekan lalu, di tengah rencana stimulus raksasa yang akan dilakukan oleh Presiden terpilih Joseph ‘Joe’ Biden.

Dow Jones turun 0,6% menjadi 30.814,26. Sementara S&P 500 kehilangan 0,7% dan ditutup pada 3.768,25, dan Indeks Nasdaq yang kaya akan teknologi juga harus kehilangan 0,9% atau turun menjadi 12.998,50.

Pasar mendapat sentimen negatif dari berita tentang penjualan ritel Desember yang turun lebih jauh dari perkiraan. Pasalnya, konsumen dan pelaku bisnis masih bergelut di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Departemen Perdagangan mencatat penjualan ritel turun 0,7% pada Desember meskipun ada pengeluaran liburan. Mengutip AFP, para analis mengatakan hal ini memberikan pandangan bahwa perekonomian masih jauh dari pulih.

Paket stimulus yang akan dikeluarkan Biden dikhawatirkan berimplikasi pada peningkatan belanja pemerintah yang dapat menyebabkan kenaikan pajak lebih tinggi. Menurut catatan Wells Fargo Advisors, hal ini tidak disukai oleh publik pedagang di Wall Street.

TIM PENELITI CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd / chd)


Source