Peringatan BEI! Transaksi Rendah, Penarikan Dana Ritel ke Bitcoin C.

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi cukup parah pada perdagangan Senin (21/12/21). Tercatat indeks acuan untuk bursa lokal anjlok 2%.

IHSG memang akhir-akhir ini sedang lesu. Tercatat dalam lima pekan terakhir, IHSG hanya mampu menguat selama satu pekan. Bahkan IHSG telah terkoreksi parah dari level 6.350 hingga saat ini telah terpuruk hingga di bawah 5.950 atau terkoreksi 400 poin indeks.

Menariknya, selain IHSG yang terus terkoreksi, nilai transaksi di bursa lokal juga terus menyusut hingga rata-rata Rp 8-9 triliun per hari. Angka tersebut tentu saja jauh di bawah rata-rata perdagangan Januari 2020 atau kuartal III 2020, di mana dalam sehari IHSG mampu mencatatkan transaksi sebesar Rp 25 triliun.

Selama periode tersebut, IHSG tak henti-hentinya naik sehingga investor ritel sangat aktif bertransaksi di bursa. Tercatat pada bulan 10,11 dan 12, IHSG mencatatkan apresiasi masing-masing sebesar 5,30%, 9,44%, dan 6,53%, yang berhasil mengangkat IHSG dari level 5.238 menjadi 5.979.

Kenaikan terus berlanjut hingga pertengahan Januari dimana IHSG sempat melesat hingga 8,80% ke level 6.500 sebelum akhirnya IHSG ambruk, selain dari saham. chip biru yang terkoreksi parah ada juga saham farmasi yang turun menyentuh level ARB selama berhari-hari.

Jatuhnya saham farmasi menyebabkan banyak korban investor ritel, terutama investor ritel generasi korona, yang terpaksa merugi besar akibat membeli saham farmasi dengan harga tinggi dan tentunya banyak investor yang ‘menyerah’ dan mencairkan dananya dari pasar modal.

Sejak saat itu, nilai transaksi IHSG tidak lagi sama, perlahan nilai transaksi saham menyusut ke level saat ini dimana IHSG diperdagangkan tidak lebih dari Rp 10 triliun per hari.

Tentunya yang menjadi pertanyaan adalah, kemana dana investor ritel tersebut? Nah, satu kemungkinan adalah ‘coronial’ ritel mengambil uang mereka menjadi aset cryptocurrency.

Hal tersebut wajar mengingat ketika IHSG ambruk pada bulan terakhir kuartal pertama 2021, mata uang kripto justru terapresiasi dengan cepat.

Tercatat bahwa Bitcoin sebagai mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar juga berhasil terbang pesat, dimana pada bulan pertama, kedua, dan ketiga tahun 2021 Bitcoin telah terapresiasi masing-masing sebesar 14,54%, 36,69%. Dan 29,79%.

Selain itu, cryptocurrency Ethereum dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di pasar juga melonjak sebesar 78,43%, 8,02%, dan 35,26%, selama dua dan tiga bulan pertama.

Akhirnya, cryptocurrency yang viral karena tweet miliarder dunia dan pendiri Tesla dan SpaceX, Elon Musk, Doge Coin, melesat semakin gila. Pada Januari 2021, koin Doge telah melonjak 687,68%. Tidak berhenti di situ pada bulan Februari dan Maret 2021 Doge Coin terus menguat 30,83% dan 11,71%.

Apalagi mengingat mata uang rupiah yang terus terdepresiasi di kuartal pertama semakin memperkuat ‘cuan’ ​​pemegang mata uang kripto yang biasanya diperdagangkan berdasarkan mata uang Paman Sam.

Hal ini tentunya menyebabkan pasar saham domestik menjadi tidak menarik karena terus terdepresiasi. Apalagi, bursa baru-baru ini tengah menyiapkan aturan untuk menghapus kode broker hidup dan hal ini tentunya akan menyulitkan investor retail yang bertransaksi secara harian alias harian pedagang harian.

Tentu saja Jika ini terus berlanjut, regulator tidak bisa lagi berharap investor ritel yang tahun lalu menjadi gerbang terakhir jatuhnya IHSG.

TIM PENELITI CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp / trp)


Source