Perhatikan rekomendasi saham perusahaan minyak di tengah tren kenaikan harga minyak

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perlahan tapi pasti, harga minyak dunia mengalami kenaikan. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, membaiknya harga minyak akan menjadi katalis positif bagi kinerja emiten di sektor perminyakan.

Terlebih lagi, tahun depan pengembangan vaksin Covid-19 akan memasuki tahap distribusi yang luas. Di sisi lain, penanganannya juga dinilai lebih baik. Kedua hal tersebut menurut Sukarno akan meningkatkan kegiatan ekonomi kembali.

Apalagi, stimulus bank sentral akan berlanjut tahun depan, yang akan membuat dolar Amerika Serikat (AS) tertekan. Dengan melemahnya dolar AS, minyak dunia akan diuntungkan dari kondisi ini.

Baca juga: Harga minyak dunia mulai melonjak, menurut analis yang direkomendasikan oleh perusahaan minyak

“Di Harga Jual Rata-Rata (ASP), (minyak dunia) akan meningkat di tahun depan seiring pabrik mulai beroperasi, transportasi darat dan udara yang kembali aktif akan memicu peningkatan permintaan. Hanya saja kenaikan permintaan perlu mendapat perhatian karena berpotensi menambah pasokan secara berlebihan yang akan semakin menekan harga minyak, ”kata Soekarno kepada Kontan.co.id, Jumat (18/12).

Sementara itu, sentimen negatif yang mungkin membayang adalah keefektifan vaksin Covid-19. Jika ternyata vaksin tersebut tidak terbukti efektif dan juga tidak berhasil mengakselerasi kegiatan ekonomi, hal tersebut berpotensi menahan laju penguatan harga minyak dunia.

Berikut rekomendasi analis untuk emiten minyak:

Baca juga: BEI memberikan insentif untuk meningkatkan pamor indeks Pimpinan LST

1. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
AKRA terus memperluas ruang lingkup lini bisnisnya setelah penandatanganan kemitraan dengan Petronas Chemicals Group (PGC). Melalui kolaborasi ini, AKRA mendistribusikan metanol dan bahan kimia lainnya sambil memperluas jangkauan produknya. Selain itu, AKRA melalui JIIPE juga berhasil menjual 17 hektar hingga kuartal III tahun 2020, dua kali lipat dari penjualan 8 hektar pada tahun 2019.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas merekomendasikan beli AKRA dengan target harga Rp 4.200 per saham.

2. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Tekanan harga minyak dunia kembali mempengaruhi kinerja MEDC tahun ini, dimana total penjualan MEDC dan pendapatan usaha lainnya mencapai US $ 792,89 juta hingga kuartal III tahun 2020, atau turun 18,27% yoy. Sementara dari intinya, MEDC sampai 9M20 membukukan kerugian US $ 130,11 juta. Manajemen MEDC bahkan memperkirakan tren negatif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

Analis Ciptadana Sekuritas Arief Budiman merekomendasikan pembelian saham MEDC dengan target harga Rp 700 per saham.

3. PT Elnusa Tbk (ELSA)
ELSA sedang mengembangkan teknologi Pemulihan Minyak yang Ditingkatkan secara kimiawi (EOR) untuk membantu menjaga dan meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas guna mempercepat pembangunan bahan kimia EOR, ELSA telah menandatangani kemitraan strategis dengan perusahaan bahan kimia dari Prancis, SNF. Tindakan ini berpotensi memberikan efisiensi kinerja sehingga memberikan hasil yang positif bagi kinerja ELSA.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony merekomendasikan beli saham ELSA dengan target harga Rp 500 per saham.

Baca juga: Naik 5,21% sejak awal tahun, inilah yang menjadi penggerak indeks BUMN20

4. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
ENRG pada semester I tahun 2020 berhasil menyelesaikan tiga sumur pemboran di Blok Malacca Strait. Dan telah menyelesaikan satu sumur dan terus mengebor satu sumur di EPCC Buzi Block di Mozambique, Afrika. Pada kuartal ketiga tahun 2020, ENRG memiliki kinerja yang baik setelah penjualan bersih naik 25% yoy menjadi US $ 239 juta dan laba bersih tumbuh pesat 254% yoy menjadi US $ 42 juta.

Secara teknikal ENRH menunjukkan munculnya tekanan jual meskipun tidak terlalu besar, meskipun MACD masih berpeluang menguat, namun ada potensi koreksi. Stochastic.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan menjual dengan kekuatan ENRG berbagi dengan dukung Rp 104 dan perlawanan Rp 133

Source