Peran ayah sangat dibutuhkan untuk mencegah pneumonia pada anak melalui imunisasi

jatimnow.com – Imunisasi merupakan program yang sangat efektif untuk memenuhi target SDGs yaitu menurunkan angka kematian bayi sebesar 25 per 1.000. Apalagi pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi dan balita.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dr Herlin Ferliana, mengatakan peran ayah sangat penting dalam menjaga kesehatan sebuah keluarga.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara pada Media Edukasi dan Penyebaran Komunikasi Publik tentang Peran Ayah dan Pencegahan Pneumonia pada Anak dengan Imunisasi.

“50 persen pneumonia disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae dan 20 persen oleh Haemophilus influenzae tipe b,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima redaksi, Selasa (22/12/2020).

Ia melanjutkan, vaksin Conjugated Pneumococcal (PCV) sudah diperkenalkan di Indonesia. Semuanya berawal dari program demonstrasi di Provinsi NTB dan Bangka Belitung dan selanjutnya dikenalkan secara nasional yaitu secara bertahap mulai tahun 2020 hingga 2024.

“Vaksin PCV yang akan digunakan memiliki izin edar dari BPOM dan sertifikat halal dari IFANCA,” ujarnya.

Herlin menambahkan, diperlukan kolaborasi yang terintegrasi dengan semua pihak untuk mencapai imunisasi PCV yang berhasil.

“Peran bapak sangat penting dalam keberhasilan imunisasi PCV,” ujarnya.

Ketua Tim Pengerak PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin mengatakan, untuk menjaga kesehatan keluarga diperlukan sistem pendukung di rumah, termasuk peran suami sebagai kepala rumah tangga.

“Untuk bapak ya harus dukung bunda. Sebab, vaksinasi anak penting untuk kesehatannya,” kata Arumi.

Ia melanjutkan, kesehatan bagi anak-anak, terutama yang dipersiapkan sebagai kesehatan masyarakat, harus terus dilakukan. Upaya untuk memastikan peran yang dimainkan oleh setiap keluarga akan membuat perbedaan dalam menjaga kesehatan anak, termasuk pneumonia.

“Kalaupun anak divaksinasi, bapak harus melahirkan dan bapak harus siaga,” ujarnya.

Arumi yakin, bila kesehatan anak terjaga, estafet penerus bangsa akan tersedia. Vaksin di sana akan menjamin kesehatan anak di masa depan.

“Ayo semangat vaksinasi untuk anak-anak kita, demi masyarakat dan kesehatan anak-anak kita kelak,” terangnya.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.AK mengatakan, seorang ayah di rumah memiliki peran kunci dalam menentukan kesehatan keluarga, termasuk pencegahan pneumonia. Selama ini maksimalisasi peran ayah belum banyak dibicarakan.

“Tokoh bapak juga punya komunitas seperti pertemuan khusus untuk warganya, ada pengajian, pertemuan RT-RW di berbagai kompleksnya,” kata Dr. Dominicus.

Ia melanjutkan, selama ini fokus kesehatan keluarga selalu tertuju pada ibu dari anak. Pasalnya, ibu yang mengasuh dan mendampingi anak dalam jangka waktu yang lama sepanjang hari.

“Kombinasi peran ayah yang maksimal akan melengkapi sebuah keluarga dalam membangun ketahanan kesehatan,” jelasnya.

Pneumonia sendiri, kata dia, merupakan radang paru-paru yang menyerang pernapasan. Pneumonia terjadi karena infeksi yang berasal dari makhluk asing yang masuk ke dalam tubuh seseorang dan menyebabkan proses penyakit.

Penyebabnya bisa virus, bakteri, jamur, bahan kimia, zat beracun atau makhluk hidup kecil lainnya, jelasnya.

Ia menambahkan, pneumonia sangat berbahaya karena menyerang saluran udara. Proses penularannya juga bisa ditularkan oleh orang lain atau saat menghirup bahan berbahaya.

“Penularannya bisa melalui tetesan atau percikan air liur. Saat seseorang berbicara, batuk, bersin, atau meludah. ​​Bisa juga melalui partikel penyebab infeksi yang beterbangan di udara,” ujarnya.

Dominicus juga menambahkan, pneumonia menyerang bayi, anak-anak, hingga lansia (lansia). Tentu saja, orang dengan sistem kekebalan yang buruk akan lebih muda terkena pneumonia.

“Jadi pneumonia ini menempati urutan pertama penyebab kematian balita di dunia. Bergantian dengan diare yang juga menjadi penyebab kematian balita,” jelasnya.

Bagi setiap keluarga, terutama bagi bapak yang menjadi konduktor di rumah harus dapat mengetahui ciri-ciri pneumonia. Biasanya diawali dengan demam, batuk dan pilek. kemudian sesak nafas muncul.

“Terakhir, lubang hidung. Termasuk otot dada yang digunakan dengan kuat. Semakin lama anak semakin lemah dan berujung pada gagal napas,” lanjutnya.

Dalam situasi seperti ini, kata dia, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Apalagi tidak semua penyakit ada obatnya. Jika tersedia, biaya dan sumber daya selalu lebih besar daripada pencegahan

“Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui imunisasi pneumonia,” imbuhnya.

Manajer Medis PT Pfizer Indonesia Dr. Carolina Halim menuturkan, sang ayah menjadi konduktor bagi keluarganya untuk bisa menjaga kesehatan. Berbagai keputusan penting sebagai bekal sebuah keluarga agar dapat menjaga kesehatan.

Data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Jawa Timur 2019 menyebutkan, meskipun Angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Timur dari laporan rutin relatif sangat kecil, namun jika dihitung angka kematian absolutnya masih tinggi.

Yakni sebanyak 3.875 bayi meninggal per tahun dan sebanyak 4.216 balita per tahun. Artinya dalam sehari sebanyak 11 bayi meninggal dan 12 balita meninggal.

Kondisi ini sebenarnya dapat dicegah, apalagi jika seorang ayah dapat mengambil keputusan yang tepat dalam membuat pilihan kesehatan bagi keluarganya.

“Sehingga potensi kematian ibu dan bayi akan ditekan,” ujarnya.

Peran seorang ayah dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, sangat menentukan fondasi sebuah keluarga termasuk dalam hal menjaga kesehatan, terlebih saat imunisasi bayi dan balita juga disertakan.

Selama ini upaya atau tindakan terkait kesehatan anak sering dilakukan oleh ibu atau orang tua perempuan. Bagaimanapun, ayah atau orang tua laki-laki memiliki peran vital dan strategis dalam hirarki sebuah keluarga.

Carolina menambahkan, bagi keluarga berpenghasilan menengah ke atas yang saat ini tumbuh dan berkembang masih mendominasi di Indonesia, seorang ayah masih menjadi bagian penting dari teka-teki bagi keluarga untuk memastikan mereka sehat.

“Para ayah diharapkan mampu mengambil keputusan penting, termasuk pengelolaan keuangan untuk kesehatan keluarganya. Sehingga mereka dapat menentukan masa depan anak-anaknya. Keputusan yang tepat untuk memastikan mereka sehat dan tetap hidup di masa depan,” ujarnya menjelaskan.

Psikolog Universitas Airlangga, Surabaya, dr Nur Ainy Fardana menuturkan, peran penting seorang ayah sebenarnya dimulai saat buah hati berada di dalam kandungan. Dibutuhkan dukungan emosional dan perhatian ayah terhadap kondisi kehamilan ibu.

“Karena itulah ayah yang terlibat dalam mengasuh anak sejak awal terbukti berkontribusi pada pengembangan rasa aman pada sisi emosional anak. Perhatian dan kasih sayang ayah terhadap anak-anaknya selama masa bayi berkontribusi besar terhadap kedekatan emosional anak. dari ayah ke bayinya, “jelasnya.

“Seorang ayah perlu mengambil keputusan yang tepat dalam pencegahan dan penanganan pneumonia,” ujarnya.

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar tertulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator sebagaimana diatur dalam UU ITE

Source