Penyebab Bisnis Hotel dan Restoran ‘Berdarah’

Jakarta, CNN Indonesia –

Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta menyebutkan kondisinya bisnis Hotel dan restoran semakin marak akibat larangan sosial atau pemberlakuan larangan kegiatan masyarakat (PPKM) di tengah pandemi Covid-19.

Ketua PHRI Sutrisno Iwantono mengatakan pembatasan sosial telah menekan tingkat hunian hotel. Padahal, dalam lima tahun terakhir saja, okupansi hotel dipangkas dari 70 persen menjadi hanya 56 persen.

Pembatasan sosial saat ini, yakni 11-25 Januari 2020 terus menekan okupansi hotel. Bayangkan okupansi dulu 70 persen, sekarang jadi 20 persen. Berat sekali. Pasti rugi banyak, kata Sutrisno, dikutip Senin (18/1).


Jika kondisi ini terus berlanjut, kemungkinan banyak pengusaha hotel dan restoran tidak akan bertahan dan terpaksa menutup warung usahanya.

“Berapa lama akan bertahan, saya tidak tahu. Namun, kondisi 2-3 bulan ke depan jika tidak ada perbaikan akan semakin sulit,” terangnya.

Penyebab lain yang memberi tekanan pada bisnis hotel dan restoran adalah beban pajak dan retribusi, seperti pajak perusahaan, pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak reklame, pajak air tanah, biaya listrik, retribusi tenaga kerja, dan lain-lain.

“Selama ini sudah ada pajak final Rp 4,8 miliar (batas pajak final). Sepertinya mau diturunkan, kalau diturunkan saya kira akan menimbulkan masalah serius di kemudian hari. Usulan kami adalah untuk naikkan minimal Rp, ”terangnya.

Di DKI Jakarta terdapat 991 hotel hingga tahun 2019. Jumlah tersebut terdiri dari 397 hotel berbintang dan 594 hotel non bintang. Padahal, jumlah rumah makan sudah mencapai puluhan bahkan puluhan ribu unit.

[Gambas:Video CNN]

Hotel dijual

Akibat kritisnya bisnis hotel dan restoran, Sutrisno mengungkapkan banyak pebisnis yang mulai menjual hotelnya. Tujuannya untuk mengurangi tekanan keuangan perusahaan.

Diketahui, pendapatan hotel mengalami penurunan, sementara biaya operasional tetap tinggi di tengah pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19.

“Kita bisa lihat di berbagai publikasi banyak hotel yang dijual,” ujarnya.

Meski begitu, pengusaha hotel itu mengaku tidak memberhentikan karyawannya (PHK).

“Yang jelas sudah banyak yang dipulangkan sejak April 2020,” ujarnya.

(ulf / bir)


Source