Penjelasan Komnas KIPI tentang Bukti, Penyebab, dan Reaksi Vaksin Covid-19

KOMPAS.com – Komisi Nasional Tindak Lanjut Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) merekomendasikan vaksinasi Covid-19 dilanjutkan.

Ketua Komnas KIPI Safari Hindra Irawan mengatakan, KIPI merupakan hal yang wajar terjadi selama vaksinasi.

“Tindak lanjut setelah imunisasi adalah sesuatu yang wajar. Karena merupakan cerminan dari respon imun seseorang,” kata Hindra melalui siaran virtual di YouTube Kementerian Kesehatan RI, Minggu (4/2/2021).

Baca juga: Bisakah Penderita Diabetes Yang Juga Korban Covid-19 Dapat Vaksin?

KIPI sempat menjadi perbincangan setelah Sabtu (3/4/2021) malam, Komandan Kompi Batalyon A Brimob Polda Maluku Iptu LT tewas usai menerima vaksin Covid-19.

Pada Senin (5/4/2021), Komnas KPIKI menyatakan bahwa dugaan sementara kematian Panglima Brimob Polda Maluku Iptu LT bukan karena efek vaksinasi Covid-19.

Bagaimana studi Komnas KIPI terkait after event pasca imunisasi?

Harus ada bukti

Hindra menjelaskan, tidak semua KIPI terkait dengan imunisasi.

Fokus kajian Komnas KIPI hanya pada peristiwa medis pasca imunisasi dan yang diduga terkait dengan imunisasi.

Sejak berdirinya pada tahun 1998, Komnas KIPI telah membantu pemerintah khususnya Departemen Kesehatan untuk mengkaji keterkaitan antara KIPI dengan vaksinasi yang diberikan. Begitu juga dengan vaksin Covid-19.

“Harus ada 2 bukti yang menyatakan bahwa vaksin ini menimbulkan reaksi KIPI,” kata Hindra.

Baca juga: Apa yang bisa meyakinkan orang untuk menyuntikkan vaksin Covid-19?

Kedua bukti tersebut adalah:

  1. Di set atau waktu yang diberikan dan kejadian itu terjadi. Harus ada detil mengenai waktu penyuntikan, tanggal, dan detil waktu terjadinya reaksi setelah imunisasi
  2. Tidak ada bukti lain selain imunisasi

Jika kedua alat bukti tersebut hilang atau tidak jelas, penyelidikan yang lebih mendalam harus dilakukan.

“Kalau masih ada kemungkinan penyakit lain, kami tidak bisa mengatakan itu terkait atau disebabkan oleh imunisasi. Untuk itu perlu dilakukan penyelidikan,” kata Hindra.

Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan bahwa vaksin menyebabkan kematian atau menarik kesimpulan yang terlalu dini.

“Kita harus melakukan studi berbasis bukti. Kita tidak bisa langsung membuat kesimpulan dengan data yang minim, pasti kesimpulannya juga tidak kuat,” kata Hindra.

Penyebab KIPI

Hindra menuturkan, ada dua alasan seseorang bisa mengalami KIPI selama vaksinasi, yaitu:

  • Bisa disebabkan oleh kandungan yang ada di dalam vaksin
  • Bisa jadi karena suasananya, seperti ketegangan, kekhawatiran dan kecemasan

“Vaksinasi harus dalam keadaan tenang, khidmat, daya tahan tubuh harus dalam keadaan optimis,” kata Hindra.

Jika terjadi reaksi akibat kandungan vaksin tersebut, sejauh ini petugas kesehatan telah mampu menanganinya dengan baik. Ini termasuk jika seseorang mengalami reaksi yang serius.

“Reaksi serius bisa ditangani dan cepat serta semuanya pulih dengan prosedur sesuai prosedur,” kata Hindra.

Reaksi tubuh adalah hal yang wajar dalam vaksinasi, dan itu bukti bahwa vaksin itu bekerja dan tubuh merespons.

Ini adalah proses memperkenalkan kekebalan tubuh terhadap vaksin. Pengenalan perlu dilakukan dalam dua tahap dengan jangka waktu tertentu.

Baca juga: Vaksin Pfizer dan Moderna Diklaim Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Tetap berpegang pada protokol kesehatan

Lebih lanjut, Hindra menegaskan bahwa vaksin bukanlah satu-satunya jalan keluar dari suatu pandemi.

Vaksinasi hanyalah salah satu upaya tambahan.

“Yang diharapkan virus adalah ketika kita lupa, kita lengah. Sudah divaksinasi, merasa sehat kemudian jangan pakai masker, jangan jauh-jauh dari keramaian, sama saja,” kata Hindra.

Tubuh membutuhkan waktu untuk mengembangkan kekebalan, dan perlu waktu bagi orang untuk mengembangkan kekebalan kawanan.

Hal inilah yang menyebabkan seseorang masih bisa tertular virus corona meski sudah melakukan vaksinasi tahap pertama, bahkan kedua.

Hindra mengatakan, jika kekebalan sudah terbentuk sempurna, tidak akan menimbulkan apa-apa. Dia mencontohkan, penurunan kasus di Inggris, Israel, dan Amerika Serikat.

“Bahwa penurunan angka kejadian penyakit yang signifikan merupakan cerminan dari keberhasilan vaksinasi,” kata Hindra.

Namun penurunan yang signifikan tidak akan tercapai jika tidak dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan.

Baca juga: Stok Vaksin Covid-19 April 2021 Menipis, Berapa Banyak yang Sudah Dapat Vaksin?

Source