Pendeta Timor-Leste, biarawati bergabung dalam upaya bantuan banjir

Para pastor dan suster di Timor-Leste telah bergabung dalam upaya memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan untuk para korban banjir bandang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam beberapa hari terakhir menyusul badai yang melanda negara mayoritas Katolik itu sejak Minggu Paskah.

Banyak dari mereka yang melarikan diri mencari perlindungan di fasilitas yang dikelola gereja.

Negara ini telah mencatat sedikitnya 36 kematian, 30 orang masih hilang dan ribuan orang mengungsi akibat banjir bandang yang dipicu oleh hujan lebat yang juga melanda provinsi Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Berlangganan buletin gratis harian Anda dari UCA News

Terima kasih. Anda sekarang sudah terdaftar di buletin harian

Pastor Angelo Salshina dari divisi pelayanan sosial Keuskupan Agung Dili mengatakan orang-orang ini membutuhkan bantuan segera.

“Konferensi Waligereja Timor telah memerintahkan para pastor dan suster untuk menanggapi dan melayani mereka sebaik mungkin,” katanya kepada UCA News.

Selama ini mereka membantu menyediakan kebutuhan dasar termasuk makanan yang sudah dimasak.

Pastor Salshina mengatakan sekitar 2.000 korban dibantu oleh Gereja di pusat pelatihan yang dikelola Salesian di Comoro di pinggiran kota Dili dan 7.000 lainnya menerima bantuan di Paroki Dikandung Tanpa Noda di Dili.

“Kami sangat membutuhkan bahan makanan pokok dan sandang untuk anak-anak dan orang tua,” katanya.

Ruben Goncalves, seorang warga Dili, mengatakan cuaca membaik, tetapi banyak orang masih belum bisa pulang.

“Saya beruntung tinggal di suatu tempat di dataran tinggi. Yang terkena dampak terparah adalah mereka yang tinggal di sepanjang sungai yang rumahnya pasti tersapu air,” katanya.

Sedikitnya 12 pusat bantuan utama melindungi para korban, kebanyakan di ibukota Dili.

Dalam pertemuan dengan Komisi Antar Kementerian untuk Perlindungan Sipil dan Bencana Alam pada 5 April, Perdana Menteri Taun Matan Ruak berterima kasih kepada semua yang terlibat dalam menanggapi banjir, termasuk organisasi keagamaan, mitra pembangunan, dan organisasi masyarakat sipil.

Dia mengarahkan anggota komisi untuk mempercepat upaya mendukung orang-orang yang terkena dampak dan memulihkan infrastruktur, sanitasi, dan sistem tenaga listrik yang rusak.

Pemerintah telah melonggarkan aturan lockdown Covid-19 agar upaya pemulihan bisa lebih lancar. Mereka termasuk menyediakan perlengkapan bangunan bagi orang-orang yang membutuhkan bahan untuk rekonstruksi rumah mereka.

Source