Pelacakan TB terhambat selama pandemi COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan mengungkapkan sejumlah kendala yang dialami dalam penelusuran kasus tuberkulosis (TBC) selama penanganan dan pemulihan pandemi COVID-19.

“Situasi TB Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan masih tinggi yaitu mencapai 845.000 kasus. Dalam situasi pandemi ini kami baru menemukan 349.549 kasus TB,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. di Media Meeting. secara virtual dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) di Jakarta, Selasa.

Dari jumlah kasus yang ditemukan pada 2020, kata Siti Nadia, 41,4 persen di antaranya menjalani pengobatan dan 84,4 persen dinyatakan sembuh.

Sedangkan dari 8.060 pasien TB yang dipastikan resisten terhadap obat, 56,5 persen masuk kriteria pengobatan lini kedua dan 40 persen dinyatakan sembuh.

32.251 kasus TB pada kelompok usia anak dilaporkan, 7.699 di antaranya adalah TB dengan HIV dan 12.844 dinyatakan meninggal.

Siti Nadia mengatakan terdapat sejumlah kendala dalam proses pemeriksaan kontak pasien TB sehingga berdampak pada ditemukannya kasus yang masih di bawah target pencapaian.

Penderita TB yang positif, kata Siti Nadia, bisa menularkan penyakitnya ke 10 hingga 15 orang di sekitarnya.

Namun karena adanya pandemi tersebut, kegiatan pelacakan kontak terhambat karena pada awal pandemi muncul kegiatan pembatasan sosial skala besar (PSBB) dan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sehingga penyelidikan kontak dapat dilakukan secara sejalan. dengan penerapan protokol kesehatan.

Baca juga: Presiden mengingatkan Indonesia urutan ketiga dunia untuk penderita TB

Masalah lainnya adalah aktivitas minum obat oleh pasien ke sejumlah fasilitas kesehatan mengalami penurunan selama pandemi.

“Beberapa orang terlambat minum obat karena takut pergi ke fasilitas kesehatan saat mulai pandemi, padahal protokol kesehatan dilakukan di rumah sakit. Ada pemisahan pasien TB dari pasien COVID-19,” katanya. dia berkata.

Baca juga: Presiden ingin penanganan TB dan COVID-19 dilakukan secara bersamaan

Akibatnya, kata dia, ada keterlambatan dalam mendiagnosis TB karena pengiriman sampel dahak (sputum) dari pasien TB tertunda. Selain itu, ada tugas ganda bagi petugas TB dengan COVID-19.

Baca juga: Penderita TB harus lebih waspada terhadap COVID-19

Masalah yang juga mempengaruhi penelusuran kasus tuberkulosis (TBC), kata Siti Nadia, adalah pengalihan anggaran TB untuk COVID-19, hingga ke tingkat pemerintah daerah.

Reporter: Andi Firdaus
Editor: Masukkan M. Astro
HAK CIPTA © ANTARA 2021

Source