Pejabat KAMI, Syahganda Nainggolan, didakwa menyebarkan berita bohong

Jakarta

Pejabat Koalisi Aksi Selamatkan Indonesia (WE), Syahganda Nainggolan, didakwa menyebarkan berita bohong terkait kasus pemicu protes terhadap omnibus law yang berakhir dengan kekacauan di Jakarta. Sidang pertama Syahganda digelar di Pengadilan Negeri Depok.

Syahganda dijerat Pasal 14 ayat 1 Nomor 1 Tahun 1946 tentang Ketentuan Hukum Pidana. Dalam artikel ini, Syahganda menghadapi hukuman 10 tahun penjara.

Dakwaan pertama, Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana; atau kedua, Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana; atau ketiga, Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Ketentuan Hukum Pidana, ”kata Humas Pengadilan Negeri Depok, Nanang Herjunanto, saat dikonfirmasi, Senin (21/12/2020).

Pasal-pasal dalam dakwaan adalah sebagai berikut:

Pasal 14:
(1) Barang siapa dengan menyiarkan berita palsu atau pengumuman dengan sengaja mempublikasikan gangguan di antara orang-orang, yang dapat dihukum dengan hukuman penjara sampai sepuluh tahun.

(2) Siapapun yang menyiarkan berita atau mengeluarkan pemberitahuan bisa menimbulkan gangguan di antara masyarakat, padahal seharusnya mencurigai berita atau pemberitahuan itu bohong, dipidana dengan pidana penjara maksimal tiga tahun.

Pasal 15.
Siapapun yang menyiarkan berita yang tidak pasti atau berita yang berlebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan dia mengerti setidaknya orang dapat menebak dengan masuk akal, bahwa berita semacam itu akan atau dapat dengan mudah membuat kebingungan di antara orang-orang orang, dihukum penjara paling lama dua tahun.

Atas dakwaan ini, Nanang mengatakan Syahganda telah mengajukan keberatan atau eksepsi. Sidang dengan agenda pengecualian akan dilanjutkan pada 4 Januari 2020.

“Tadi surat dakwaan sudah dibacakan oleh jaksa penuntut umum. Sidang ditunda Senin 4 Januari 2021 dengan menerima keberatan atau pengecualian dari terdakwa dan kuasa hukum terdakwa,” kata Nanang.

Sidang ini diadili oleh tiga hakim. Mereka adalah Yulinda Trimurti Asih Muryati selaku ketua majelis dan dua anggota lainnya, Nur Ervianti Meliala dan Andi Imran Makulau.

Diketahui, polisi telah menetapkan 9 tersangka penghasut. Dari 9 tersangka tersebut, beberapa diantaranya adalah Ketua AS Medan Khairi Amri (KA) serta pejabat AS, Syahganda Nainggolan (SN), Jumhur Hidayat (JH), dan Anton Permana (AP).

Ketua WE Medan Khairi Amri ditangkap di Medan bersama tiga tersangka lainnya, yakni Juliana (JG), Novita Zahara S (NZ), dan Wahyu Rasasi Putri (WRP). Sedangkan Jumhur, Syahganda dan Anton ditangkap di Jakarta bersama tersangka lainnya, yakni Kingkin Anida.

Selain itu, Deddy Wahyudi (DW) yang merupakan admin dari akun @podoradong. Deddy ditangkap karena melakukan ujaran kebencian dan menyebabkan keributan atau kebingungan dengan berita palsu.

(zap / eva)

Source