Pandemi COVID-19 Meningkatkan Suhu Panas Bumi

Peningkatan suhu ini terjadi karena lebih sedikit partikel jelaga dan sulfat dari knalpot mobil dan pembakaran batubara.

RAKYATKU.COM – Sebuah penelitian menunjukkan bahwa lockdown selama pandemi COVID-19 justru meningkatkan panas, padahal kebijakan ini membuat udara lebih bersih.

Journal of Geophysical Research Letters seperti dikutip dari Associated Press, Jumat (5/2/2021), terungkap bahwa dalam waktu singkat, suhu di beberapa tempat di Amerika Serikat bagian timur, Rusia, dan China menjadi lebih hangat 0,3 hingga 0,37 derajat Celcius.

Peningkatan suhu ini terjadi karena lebih sedikit partikel jelaga dan sulfat dari knalpot mobil dan pembakaran batubara. Partikel-partikel tersebut biasanya dapat mendinginkan atmosfer dengan memantulkan panas matahari.

Secara keseluruhan, suhu bumi akan lebih hangat 0,03 derajat Celcius pada tahun 2020 karena udara yang memiliki lebih sedikit aerosol pendingin. Namun, aerosol tidak terlihat seperti karbon dioksida dalam polusi.

“Membersihkan udara sebenarnya dapat menghangatkan planet ini karena polusi (jelaga dan sulfat) menghasilkan pendinginan yang telah lama diketahui oleh para ilmuwan iklim,” kata penulis utama studi tersebut, Andrew Gettelman.

Dia adalah seorang ilmuwan atmosfer di Pusat Penelitian Atmosfer Nasional. Perhitungan tersebut berasal dari perbandingan cuaca tahun 2020 dengan model komputer yang mensimulasikan tahun 2020 tanpa mengurangi polusi dari penerapan lockdown.

Gettelman mengatakan efek pemanasan sementara dari partikel yang lebih sedikit ini lebih kuat pada tahun 2020 daripada efek pengurangan emisi karbon dioksida yang memerangkap panas.

Itu karena karbon bertahan di atmosfer selama lebih dari satu abad dengan efek jangka panjang, sedangkan aerosol hanya bertahan di udara sekitar seminggu.

Ilmuwan iklim NASA terkemuka, Gavin Schmidt, menegaskan bahwa bahkan tanpa pengurangan aerosol pendingin, suhu global pada tahun 2020 akan memecahkan rekor panas tahunan.

Sumber: VOA Indonesia

Source