Pakar Minta RI Antisipasi Potensi Gempa Megathrust, Apa Artinya?

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah studi yang dilakukan pada tahun 2019 menyebutkan bahwa terdapat potensi gempa megathrust di Indonesia. Salah satunya potensi tsunami mencapai 20 meter di bagian selatan Pulau Jawa.

Hal tersebut terungkap dalam sejumlah penelitian pada tahun 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa megathrust lokal mengalami gempa kuat di bagian barat dan timur Pulau Jawa.

Dengan menggunakan model yang diturunkan dari GPS, para peneliti melakukan simulasi. Skenario terburuk adalah ketika sumber gempa di barat dan timur pecah bersama, maka akan menghasilkan gelombang tsunami yang tinggi.

Gelombang tsunami tertinggi berpotensi terjadi di barat dengan ketinggian 20 meter. Sedangkan bagian timur 12 meter dan bagian tengah berkisar antara 4,5 sampai 5 meter.

Gempa megathrust sendiri terjadi di zona subduksi yang berada di atas lempeng konvergen destruktif, yaitu ketika lempeng tektonik tertekan di bawah lempeng lain.

Megathrust adalah gempa antar lempeng terkuat di dunia. Kemungkinan jika ini terjadi bisa menghasilkan besaran 9.0.

Informasi ini terungkap dalam laporan ilmiah ‘Implikasi gempa bumi megathrust dan tsunami dari celah seismik selatan Jawa Indonesia’. Jurnal tersebut ditulis oleh 11 peneliti dari berbagai institusi dan universitas Indonesia dan internasional.

Sedangkan peringatan yang sama muncul saat gempa M6,7 terjadi di wilayah Malang pada Sabtu (10/4/2021). Kemudian sehari kemudian disusul gempa bumi dengan kekuatan 5,5.

Foto: Potensi gempa megathrust (jurnal Nature.com)

Dalam unggahan di akun Twitternya, Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan gempa tersebut merupakan pengingat akan kebenaran ancaman sumber gempa subduksi.

“Gempa dahsyat Malang Selatan ini menjadi alarm bagi kita semua bahwa ancaman sumber gempa subduksi di lempeng selatan Jawa yang didengungkan seismolog itu benar adanya. Harus kita waspadai,” tulisnya, dikutip Senin (16/10). 12/4/2021).

Tweet tersebut menjadi viral, dan sekarang telah me-retweet lebih dari 4.914 akun dan 10.200 suka. Hal tersebut termasuk netizen di kolom komentar.

Meluncurkan detik.com, dia mengatakan harus menyiapkan sejumlah mitigasi. Misalnya membuat bangunan tahan gempa.

“Itu yang paling ringan tapi konteksnya waspada menyiapkan mitigasi konkrit dengan mewujudkan bangunan tahan gempa, penataan ruang pantai, pemasangan rambu-rambu dan pembuatan jalur evakuasi dan bor / bor evakuasi. Ini merupakan implementasi dari kewaspadaan,” ujarnya.

Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung, Astyka Pamumpuni, juga menyinggung soal mitigasi melalui penguatan bangunan tahan guncangan. Dengan melalui tiang-tiang tiang yang cocok jika rumah terbuat dari dinding.

“Dengan kolom / tiang cor yang sesuai akan meminimalisir runtuhnya bangunan yang dapat menimbulkan korban jiwa,” ucapnya.

Menanggapi tweet Daryono, Astyka mengatakan melihat sejarah tahun 1994 juga pernah terjadi gempa besar di wilayah yang sama.

Yang Pak Daryono sampaikan adalah hasil Pusgen terbaru 2017. Hasil ini dari penelitian banyak ahli gempa di Indonesia. Jika kita melihat sejarah, pada tahun 1994 juga terjadi gempa besar di kawasan gempa tersebut. Sumber. Sebelumnya pernah terjadi gempa pada tahun 1921. hebat, “kata Astyka.

[Gambas:Video CNBC]

(roy / roy)


Source