Ornamen Natal dijual di Arab Saudi

Jakarta, CNN Indonesia –

Pernak-pernik dan ornamen hari Natal sekarang dijual bebas di ibu kota Riyadh, Arab Saudi.

Di masa lalu, hal ini tidak pernah terjadi karena Saudi melarang simbol dan praktik pemujaan agama lain diungkapkan ke publik.

“Saya tidak pernah membayangkan ini. Saya sangat terkejut,” kata seorang warga Arab Saudi yang tidak mau disebutkan namanya saat wawancara di ibu kota, Riyadh, seperti diberitakan. AFP, Selasa (22/12).

Ia tampak terkesima saat memasuki toko yang menjual replika pohon cemara beserta pernak-perniknya hingga pakaian Santa.

Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan ornamen festival juga semakin ramai di Riyadh. Hal ini menandakan bahwa kebijakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang ingin mengubah citra negaranya menjadi lebih moderat, dari standar konservatif yang telah berlaku selama ini, terus berlanjut.

Tiga tahun lalu tidak ada penjual di Arab Saudi yang secara terbuka menjual pernak-pernik Natal.

Selama beberapa dekade, perayaan Natal telah dilakukan secara rahasia. Pekerja migran Kristen dari Filipina dan Lebanon hanya merayakan hari lahir Yesus Kristus di rumah masing-masing

“Sangat sulit mendapatkan hiasan Natal di Saudi. Teman-teman saya harus membelinya dari Lebanon atau Suriah dan diam-diam membawanya ke Saudi,” kata Maria, pemukim Lebanon.

Pada 2018, bea cukai Saudi melarang pohon cemara, ornamen Natal yang umum, dibawa ke negara itu.

Omar, pemilik toko yang menjual pernak-pernik Natal di Riyadh, mengatakan dia juga menjual ornamen untuk merayakan Halloween. Kebiasaan ini berasal dari Amerika Serikat yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Selama ini Arab dikenal sebagai penyebar ajaran Wahhabi ke seluruh dunia. Namun, sejak Pangeran Mohammed bin Salman naik, dia telah berkampanye untuk dialog antaragama.

Mereka juga menjadi tuan rumah bagi para pejabat Gereja Katolik Vatikan dan para pemimpin agama Yahudi dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk memuluskan rencananya untuk mengubah citra Arab Saudi dari yang konservatif menjadi negara yang lebih terbuka, Pangeran Mohammed bin Salman memerintahkan penghapusan materi sekolah yang mengklaim bahwa non-Muslim, termasuk Yahudi, setara dengan kera dan babi. Hal itu dilakukan untuk membentuk generasi penerus yang lebih toleran terhadap masyarakat yang berbeda agama.

Pemerintah Saudi kini juga mengizinkan konser musik dan membuka pusat hiburan untuk umum seperti bioskop. Namun, mereka tetap melarang pembangunan rumah ibadah agama lain seperti gereja atau biara.

(AFP / ayp)

[Gambas:Video CNN]


Source