Nyaris Gocap, BKSL Bagikan Ambles Usai Jual AEON Sentul City

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham emiten properti PT Sentul City Tbk (BKSL) bergerak di zona merah pada sesi perdagangan 1 Selasa (20/4/2021), setelah perseroan menjual AEON Sentul City Mall kepada PT AEON Mall Indonesia senilai Rp 1,9 triliun. .

Saham BKSL juga turun 5,26% ke level Rp 54 / saham pada pukul 10:18 WIB. Nilai transaksi saham BKSL mencapai Rp. 14 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 260 juta saham. Bersamaan dengan aksi jual AEON Mall, investor asing juga melepas saham BKSL senilai Rp 17 juta di pasar reguler.

Sebelumnya perseroan menjual AEON Sentul City Mall kepada PT AEON Mall Indonesia senilai Rp 1,9 triliun. Pengumuman ini dilakukan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Dalam surat yang disampaikan Sentul City disebutkan penjualan dilakukan pada 15 April 2021.

“Perusahaan akan memperoleh dana untuk membiayai kegiatan operasional, memenuhi perjanjian dan meningkatkan kas untuk kelangsungan usaha,” kata Direktur Utama Sentul City Tjetje Muljanto, dalam keterbukaan informasi, Senin (19/4/2021).

Sementara itu, Komisaris Utama Sentul City Basaria Panjaitan mengatakan, penjualan ini terjadi karena Aeon Jepang sebagai investor asing melalui PT Aeon Mall Indonesia melihat prospek bisnis yang sangat bagus di kawasan perumahan Sentul City.

“Untuk perseroan sendiri, dana hasil akuisisi / penjualan akan digunakan untuk melunasi pinjaman kepada PT Bank BNI Tbk sebesar Rp 900 miliar,” kata Basaria.

Jika melihat kinerja keuangannya, perseroan membukukan rugi bersih Rp 325 miliar pada kuartal III 2020.

Perusahaan mengalami kerugian karena laba bersih turun dari Rp 540 miliar menjadi Rp 247 miliar sedangkan beban operasional lainnya meningkat dari Rp 61 miliar menjadi Rp 186 miliar sementara biaya keuangan juga melonjak dari Rp 104 miliar menjadi Rp 169 miliar.

Salah satu penyebab meningkatnya beban keuangan BKSL adalah besarnya utang jangka pendek BKSL. Per September 2020, BKSL memiliki kewajiban jangka pendek sebesar Rp. 3,4 triliun. Dengan sisa kas dan setara kas yang hanya Rp 201 miliar, wajar jika perseroan terpaksa harus menjual mal-malnya.

Kenaikan utang perseroan terjadi pada kewajiban jangka pendek lainnya, yakni pembayaran utang kepada pihak ketiga yang jika ditotal mencapai Rp 1,3 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp 1,17 triliun.

Besarnya pembayaran utang kepada pihak ketiga per triwulan III-2020 kepada PT Bintang Harapan Desa sebesar Rp 234 miliar, PT Daya Kharisma Nusantara sebesar Rp 218 miliar, dan Golden Capital Foundation Limited sebesar Rp 239 miliar.

Selain itu, pendapatan berulang (pendapatan berulang) BKSL tidak begitu signifikan jika dibandingkan dengan pendapatan dari penjualan properti dan sebagainya.

Tercatat pendapatan hotel, restoran, taman hiburan, dan lain-lain hanya menyumbang Rp. 64 milyar dari Rp. 247 miliar dalam laba bersih perusahaan. Laba bersih perseroan dari pos ini hanya mencapai Rp 30 miliar.

Pendapatan utama perseroan masih dikontribusi pos penjualan tanah siap bangun, rumah hunian, ruko dan apartemen yang meraup pendapatan Rp 114 miliar dengan beban yang relatif kecil Rp 114 miliar.

Sedangkan pendapatan operasional lainnya juga relatif kecil dimana sewa hanya menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 874 juta.

Hasil penjualan aset tersebut akan mengurangi kewajiban perseroan secara signifikan. Selain itu, penjualan mal memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan di kuartal II tahun ini dan membantu arus kas perseroan.

[Gambas:Video CNBC]

(chd / chd)


Source