Mobil listrik yang dikeluhkan bos Toyota ternyata sudah dibuat di …

Memuat …

JAKARTA Mobil listrik merupakan teknologi terkini yang sedang dikembangkan oleh berbagai merek di dunia. Produsen otomotif pun berlomba-lomba menciptakan kendaraan ramah lingkungan itu secara besar-besaran. Namun tidak semua pabrikan senang dengan perkembangan ini. Bos Besar Toyota , Akio Toyoda, orang yang mengeluhkannya.

Ditarik ke belakang, sebenarnya mobil listrik bukanlah teknologi baru. Pada tahun 1885, sebuah mobil listrik diciptakan oleh seorang pria bernama Karl Benz. (Baca juga: Bos besar Toyota ini merasa tidak nyaman dengan perkembangan industri mobil listrik )

Ilmuwan dari berbagai negara, seperti Hongaria, Belanda, dan Amerika Serikat, juga pernah mencoba membuat kendaraan bertenaga baterai. Mereka menciptakan beberapa mobil listrik dalam skala kecil, sejak abad ke-18.

Lalu ada juga pria asal Inggris bernama Robert Anderson yang berhasil mengembangkan mobil roda tiga yang menggunakan baterai listrik sebagai penggeraknya pada tahun 1832. Penemuan Anderson dianggap sebagai mobil bertenaga listrik pertama di dunia.

Memasuki era modern, pada 1988 General Motors mulai mengembangkan mobil listrik. Bekerja sama dengan AeroVironment California, mereka berhasil membuat mobil listrik bernama EV1 yang mulai diproduksi dari tahun 1996 hingga 1999.

Melihat perkembangan mobil listrik di Eropa, perusahaan Jepang, Toyota, juga tak mau kalah. Toyota juga mengumumkan mobil hibrida pertama kali bernama Toyota Prius.

Itu baru di tahun 2000-an, Elon Musk memperkenalkan Tesla di International Auto Show, San Francisco, Amerika Serikat. Dunia pun heboh dengan kemunculan Tesla yang dibenamkan berbagai fitur canggih.

Sejak saat itu, berbagai negara mendukung perkembangan mobil listrik karena terbukti ramah lingkungan. Ini adalah upaya dunia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Indonesia juga tidak mau ketinggalan dalam mengembangkan mobil listrik. Sejak era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang digagas oleh Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN saat itu, kendaraan listrik mulai dikembangkan.

Perkembangannya menghasilkan mobil bertenaga listrik bernama Selo, yang dipamerkan pada KTT APEC di Bali pada 2013. Selain Selo, mobil Tucuxi juga dibuat. Sayangnya, perkembangan itu terhenti karena satu dan lain hal.

Barulah di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo kendaraan listrik mulai dihidupkan kembali. Berbagai regulasi memudahkan pengaspalan kendaraan listrik di Tanah Air. Presiden juga meresmikan motor listrik bernama Gesit.

Namun menurut hasil survei Consumer Reports baru-baru ini, mobil listrik terbaru lebih rentan mengalami masalah daripada mobil listrik yang sudah lama dijual. Laporan tersebut terungkap setelah Consumer Reporr melakukan survei terhadap 329.000 mobil listrik di dunia.

Consumer Report menemukan banyaknya permasalahan yang dialami mobil listrik baru seperti Tesla Model Y, Audi E-Tron, dan KIA Niro EV. Hal tersebut dikarenakan pengembangan mobil listrik terbaru dirakit dengan kompleks karena memiliki platform baru dan sarat dengan teknologi terkini.

Meskipun mobil listrik tua cukup sederhana, ia hanya melengkapi mobil listrik dengan sistem transmisi yang baik dan baterai yang dapat menempuh jarak jauh dengan sekali pengisian daya.

Terlepas dari itu semua, mobil listrik merupakan kendaraan masa depan yang dinilai mampu menyelamatkan bumi dari polusi udara dan penggunaan energi alam yang berlebihan. Indonesia sendiri masih harus terus mengejar ketertinggalan dengan negara lain guna meningkatkan penggunaan mobil listrik.

Sebelumnya dikabarkan Big Boss Toyota, Akio Toyoda mengeluhkan pesatnya perkembangan industri mobil listrik. Mobil listrik dianggap mematikan bisnis otomotif, menuntut investasi besar dan mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida. (Baca juga: Panik Karena Dagingnya Masih Mentah, Apa Jadinya di Grand Final MasterChef Indonesia? )

CEO Toyota tampaknya sedang mendorong pemerintah Jepang untuk tidak melarang kendaraan dengan mesin bakar bahan bakar seperti yang dilakukan negara lain. Rumor menyebutkan bahwa Jepang akan menetapkan tahun 2035 sebagai batas akhir penjualan mobil berbahan bakar fosil di negaranya. Tidak jelas apa itu hybrid dan hybrid pengaya akan tetap diizinkan, seperti yang terjadi di Inggris.

(iqb)

Source