Meski Sudah Diimpor Vaksin Merah Putih Sinovac Akan Terus Berlanjut

RMco.id Orang Bebas – Sejak datangnya vaksin Sinovac, semua perhatian tertuju pada vaksin buatan China. Lalu, apa yang akan terjadi dengan penangkal virus Corona buatan anak bangsa, yaitu vaksin Merah Putih?

Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek / BRIN) Bambang PS Brodjonegoro memastikan vaksin Merah Putih akan tetap berjalan meski pemerintah sudah mengimpor vaksin.

Padahal, Bambang akan mempercepat proses uji klinis vaksin anak bangsa. Keinginannya itu sudah ia komunikasikan dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bio Farma dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Upaya percepatan tersebut, kata Bambang, tentunya tetap memperhatikan seluruh protokol uji klinis. “Mudah-mudahan akhir tahun bisa diproduksi dan diberikan kepada penerima vaksin,” kata Bambang.

Untuk itu, Bambang bekerja sama dengan tujuh institusi untuk mengembangkan vaksin Merah Putih.

Berita Terkait : Trump Merasa Kebal

Ketujuh institusi tersebut yaitu Eijkman, Universitas Airlangga, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjajaran (Unpad). Ketujuh institusi tersebut mengembangkan vaksin dengan peron berbeda.

Dia telah mengeluarkan keputusan menteri untuk pengembangan penggunaan vaksin Merah Putih peron protein rekombinan.

“Saya perkirakan ketiganya (Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, dan Lembaga Eijkman) berpotensi menyerahkan bibit vaksin ke Bio Farma pada kuartal I tahun depan,” imbuhnya.

Bambang mengatakan, kemandirian pengembangan vaksin Merah Putih penting karena vaksin Covid-19 akan dibutuhkan dalam jangka panjang.

“Kebutuhan vaksin ini tidak hanya untuk tahun 2021, tetapi juga untuk tahun 2022 dan seterusnya. Tentu hal ini menjadi kebutuhan yang sangat besar, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa dan dibutuhkan vaksin booster atau vaksinasi ulang,” imbuhnya.

Berita Terkait : 7 Persen Orang Tolak Vaksin Corona Pak Luhut, Ada Apa Ini?

Sementara itu, Kepala Bidang Eijkman Amin Soebandrio mengungkapkan progres pengembangan vaksin Merah Putih. Ia mengatakan saat ini pihaknya masih harus menyelesaikan tahap eksplorasi laboratorium dan menyerahkan bibit vaksin Covid-19 kepada industri.

Prosesnya akan selesai pada Maret 2021. Setelah itu, industri akan melanjutkan proses uji praklinis pada hewan dan selanjutnya uji klinis tahap I, II dan III.

Amin menjelaskan tantangan utama yang dihadapi selama proses pembuatan vaksin SARS-CoV-2. Menurutnya, ini pertama kalinya Eijkman mengembangkan vaksin dari awal dan batas waktu yang diberikan sangat singkat.

Tahap eksplorasi laboratorium yang biasanya memakan waktu 3 hingga 5 tahun untuk vaksin pandemi ini hanya tersedia selama 12 bulan, jelasnya.

Dengan waktu yang sangat singkat itu, Eijkman juga diminta memastikan vaksin yang dibuatnya aman dan efektif, serta memenuhi persyaratan halal.

Berita Terkait : Menjelang Vaksinasi Massal, Uji Pimpinan Uni Eropa Covid-19

“Harapan besar diberikan oleh semua lapisan masyarakat agar vaksin Merah Putih segera tersedia,” ujarnya.

Sesuai dengan karakternya, Amin mengungkapkan terdapat perbedaan mendasar antara vaksin impor yang sudah beredar, seperti Sinovac dari China, Pfizer atau Moderna dari Amerika Serikat (AS) atau AstraZeneca dari Inggris. [DIR]


Source