Mengenal Meningitis, penyakit yang merenggut nyawa Glenn Fredly

Jakarta, Beritasatu.com – Meningitis kini mungkin semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Apalagi setelah Glenn Fredly menderita penyakit yang akhirnya menewaskan penyanyi tersebut. Meski mematikan, penyakit ini tergolong langka.

Penyakit ini jarang ditemukan, tapi mematikan. Meningitis adalah peradangan pada meninges atau selaput otak, kata dr Atilla, melalui akun Instagram @kenapaharusvaksin yang dikutip, Rabu (7/3/2021).

Atilla menjelaskan, Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat meningitis. Meningitis sendiri, kata dia, bisa disebabkan oleh virus, kuman, parasit, atau bakteri.

Dari berbagai penyebab meningitis, yang paling berbahaya adalah meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis.

“Meningitis yang disebabkan oleh bakteri disebut Invasive Meningococcal Disease atau disingkat IMD,” ujarnya.

Jika ditangani dengan tidak tepat, lanjut Atilla, 50% IMD bisa berakhir dengan kematian dan 5% -10% kasus berakibat fatal meski sudah menjalani terapi. Selama masa epidemi, IMD sendiri terutama menyerang anak-anak dan dewasa muda. Sedangkan pada non epidemik, IMT lebih banyak terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun.

“Hanya dalam 24 jam, kondisi anak bisa berubah dari panas menjadi berbahaya,” terangnya.

Atilla juga memaparkan gejala anak di atas 1 tahun yang terkena IMD. Ini termasuk demam, sakit punggung atau leher, sakit kepala
mual atau muntah, leher kaku, dan
bercak ruam ungu kemerahan.

Kemudian pada bayi, gejala IMT tidak mudah terlihat, namun gejala tersebut bisa menjadi perhatian orang tua. Antara lain rewel, lesu, tidur terus-menerus, menolak menggunakan botol, menangis saat dipegang dan tidak bisa menenangkan saat menangis.

“Kemudian mahkota menonjol (pada bayi), perubahan tingkah laku dan demam,” ujarnya.

Atilla melanjutkan, ada beberapa faktor risiko penyebab Penyakit Meningokokus Invasif, yakni kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, asap rokok (aktif & pasif), pemukiman padat, perubahan iklim, tingkat sosial ekonomi rendah dan riwayat infeksi saluran pernapasan bagian atas.

Ia menegaskan, IMD memang bisa diobati, namun IMD bisa meninggalkan “jejak” seperti kelumpuhan, tuli, dan kerusakan otak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pencegahan terbaik untuk meningitis adalah vaksinasi. Vaksinasi terutama diberikan kepada anak-anak di bawah usia 5 tahun, serta anak-anak dalam kelompok usia 11-18 tahun. Saat ini vaksinasi untuk mencegah IMD sudah tersedia di Indonesia.

“Ayo lindungi orang tercinta dengan vaksinasi. Bagi yang ingin mendapat vaksinasi IMD bisa berkonsultasi ke dokter,” kata Atilla.

Sumber: BeritaSatu.com

Source