Mengapa Antibodi Tidak Dibentuk Bahkan Setelah Vaksin Covid-19 Disuntikkan?

Harianjogja.com, JAKARTA – Pemerintah sedang menggalakkan vaksinasi Covid-19. Pemberian vaksin covid-19 yang dilakukan untuk seluruh masyarakat Indonesia lambat laun membawa banyak harapan.

Dengan adanya vaksin membawa harapan baru jika keadaan cepat sembuh. Namun, situasi ini akan menjadi bumerang, karena tidak semua badan kompatibel dengan vaksin.

Menurut dr RA Adaninggar SpPD (@ ningzsppd), masyarakat harus berhati-hati dengan euforia ini.

“Intinya, sistem imun manusia sangat kompleks, imunitas tidak hanya ditentukan oleh antibodi, banyak faktor dan sel imun lain yang juga berperan, tapi tidak semua bisa diperiksa,” kata Ning.

Baca juga: Untuk Pasangan, Inilah 9 Tips Membangun Hubungan Sehat

Sekitar 2-10 persen orang sehat, gagal membentuk antibodi pada tingkat tertentu setelah vaksinasi rutin.

Kondisi non responden dilaporkan terjadi pada beberapa vaksin sebelumnya dengan prevalensi yang bervariasi, misalnya pada vaksin hepatitis B, hepatitis A, dan influenza.

Begitu pula keefektifan vaksin covid-19. Efektivitas vaksin tidak tergantung pada tingkat antibodi, tetapi ditentukan oleh sistem kekebalan setiap orang, perilaku dan gaya hidup bersih dan sehat, faktor-faktor dari vaksin itu sendiri, dan varian virus di sekitarnya. Jadi tingkat titer antibodi tidak bisa menjadi indikasi pasti dari kekebalan seseorang.

Baca juga: Mengenali 3 Gejala Serangan Jantung yang Muncul Tiba-Tiba

Ning juga menjelaskan kegagalan vaksin terbagi menjadi dua jenis yaitu primer dan sekunder.

Kegagalan primer yaitu sejak awal penyuntikan dan booster tidak membentuk antibodi yang optimal.

Kemudian kegagalan sekunder adalah terbentuknya antibodi tetapi tidak dapat melindungi secara memadai dari infeksi alami.

Semakin lama periode dari vaksinasi hingga penguat infeksi alami atau vaksin, semakin besar kemungkinan kegagalan vaksin sekunder.

Kondisi ini terjadi karena faktor vaksin yaitu antigen yang digunakan, faktor teknis injeksi, interval atau dosis tertentu.

Kemudian faktor sistem imun seperti genetik, usia, penyakit penyerta imunodefisiensi, penggunaan obat imunosupresan, dan status gizi.

Adanya antibodi hanya menunjukkan bahwa tubuh manusia telah mengenal dan merespon virus tertentu baik melalui infeksi alami maupun vaksin.

Kadar antibodi tidak dapat menunjukkan dengan pasti imunitas yang terbentuk, kemampuan penetralan, lamanya resistensi antibodi atau virus dan efektivitas vaksin.

“Pada prinsipnya, selama kekebalan kawanan Masih belum terbentuk, virus masih beredar di sekitar kita, semua orang masih bisa tertular termasuk orang yang sudah divaksinasi, meski dengan vaksin itu risiko sakit parah dan kematian akan berkurang, ”kata Ning.

Sumber: Bisnis.com

Source