Memecahkan Rekor, Menjaga Covid Mendesak Pemerintah Memperketat Mobilitas

Jakarta, CNN Indonesia –

Organisasi Guard Covid-19 mendesak pemerintah untuk memperketat mobilitas atau pergerakan di masyarakat karena kasus positif Covid-19 di Indonesia terus melonjak.

Rekor penambahan kasus tertinggi terjadi pada Sabtu (16/1) dan mencapai 14.224 kasus.

Co-Founder Kawal Covid-19 Elina Ciptadi mengatakan, pemerintah harus membatasi pergerakan masyarakat menuju aktivitas yang dapat menimbulkan keramaian sehingga menjadi sumber penularan Covid-19.

“Kita harus belajar dari hari-hari sebelumnya. Kita berharap pemerintah membuat kebijakan yang membatasi mobilitas. Tidak ada jalan lain,” kata Elina saat dihubungi. CNNIndonesia.com, Minggu (17/1).

Pemerintah sendiri telah melaksanakan Penegakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah di Jawa-Bali pada 11-25 Januari 2021.

Sejumlah kebijakan diterapkan, antara lain bekerja dari rumah 75 persen atau Bekerja Dari Rumah hingga pembatasan jam operasional tempat umum.

Namun, Elina menilai peningkatan kasus tersebut tidak terlepas dari berbagai agenda besar seperti Pilkada Serentak 2020 hingga liburan akhir tahun yang terjadi berturut-turut pada Desember lalu.

“Ada event, atau liburan, atau momen yang mempertemukan orang. Jadi sepertinya tidak ada habisnya, karena satu acara baru kita mulai, beberapa minggu ada peningkatan kasus, hanya sedikit bisa bernapas lega. Eh, hit lagi,” dia berkata.

Menurut dia, peningkatan kasus pada pertengahan Januari sudah bisa diprediksi dan semestinya bisa diminimalisir dengan membuat kebijakan.

Pemerintah telah memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa-Bali untuk menekan penyebaran Covid-19.  PSBB berlaku mulai 11-25 Januari 2021.Pemerintah telah memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa-Bali untuk menekan penyebaran Covid-19. PSBB akan berlaku mulai 11-25 Januari 2021 (Foto: CNN Indonesia / Timothy Loen)

Di sisi lain, lanjut Elina, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah rasio jumlah orang yang dites dengan hasil positif atau angka positif kasus Covid-19 di Indonesia.

Persentase angka positif tersebut dalam beberapa hari terakhir cukup memprihatinkan, mencapai 32,83 persen pada 17 Januari lalu.

“Kalau kita lihat, tren positivitas rate terus naik. Dari Desember masih sekitar 20 persen, lalu dari akhir Desember hingga awal Januari sudah meningkat,” ujarnya.

Elina juga mengingatkan okupansi rumah sakit di beberapa daerah sudah melebihi ambang batas.

Menurut dia, pemerintah harus tanggap merespons karena bukan tidak mungkin kepadatan rumah sakit berimplikasi pada peningkatan kasus kematian akibat Covid-19.

“Kami sudah lama mendengarnya, istilahnya baru sampai di rumah sakit lalu meninggal. Bahkan meninggal saat menunggu, atau meninggal di rumah,” jelas Elina.

“Mungkin karena itu, mereka menunda ke rumah sakit, melihat kondisinya ‘baik-baik saja, saya juga cenderung ditolak kemana-mana’. Ini sangat disayangkan,” imbuhnya.

Sebagai gambaran, sejumlah daerah memiliki tingkat okupansi tempat tidur di ruang isolasi dan ICU pasien Covid-19 yang melebihi 70 persen.

Padahal, ambang batas tingkat hunian tempat tidur (BOR) menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 60 persen.

Hasil ringkasan sementara CNNIndonesia.com Ada beberapa daerah yang sudah melebihi standar WHO, antara lain DKI Jakarta, Kota Depok, Kota Kupang, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Hingga 17 Januari, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 907.929 dengan 736.460 pulih dan 25.987 meninggal.

Selama tiga hari berturut-turut, pemecahan rekor penambahan kasus pada 16 Januari mencapai 14.224.

Sebelumnya, penambahan 12.818 orang pada 15 Januari dan 11.557 orang pada 14 Januari.

(psp)

[Gambas:Video CNN]


Source