LIPI: Valinomisin Menghambat Infeksi Virus Hepatitis C.

Valinomycin mampu menghambat infeksi virus SARS-Cov yang merebak pada tahun 2000-an.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Masteria Yunovilsa Putra mengatakan senyawa valinomisin berpotensi tinggi untuk menghambat infeksi virus hepatitis C (HCV) dan pertumbuhan jamur dan bakteri patogen. Penemuan ini dicatat dalam publikasi penelitian yang berjudul ‘Anti-Infective and Antiviral Activity of Valinomycin and Its Analogues from a Sea Cucumber-Associated Bacterium, Streptomyces sp SV 21‘.

“Hasilnya, kami menemukan bahwa valinomisin dan analognya berpotensi tinggi untuk menghambat infeksi virus hepatitis C dan menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri patogen,” kata Masteria saat dihubungi. Antara, Jakarta, Kamis (4/2).

Dalam publikasi tersebut, para peneliti melaporkan hasil isolasi senyawa valinomisin dan analognya dari bakteri Streptomyces sp SV21, yang hidup berasosiasi dengan teripang. Analog valinomisin ditemukan dari Streptomyces sp SV21 adalah streptodepsipeptide P11A, P11B, dan SV21. Senyawa ini memiliki sedikit perbedaan dengan valinomisin.

Penelitian dilakukan oleh Masteria, Joko Tri Wibowo, Tutik Murniasih dan Dimas F Praditya yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, bekerjasama dengan peneliti asing dari sejumlah institusi di Jerman, yaitu Matthias Y Kellermann, Matthias Koeck, Kathrin I Mohr, Joachim Wink, Eike Steinmann, dan Peter J Schupp. Para peneliti melakukan berbagai pengujian untuk mengetahui struktur senyawa dan melihat aktivitas senyawa valinomisin tersebut.

Para peneliti membandingkan aktivitas valinomisin dan analognya dengan senyawa murni pembanding. Hasilnya, valinomisin memiliki aktivitas yang sama dan bahkan lebih kuat dibandingkan senyawa pembanding pada uji antijamur (terhadap Rhodoturula glutinis dan jamur Mucor hiemalis) dan antivirus (pada Virus Hepatitis C / HCV).

“Namun, kami perlu menggarisbawahi toksisitas valinomisin dan analognya. Kami membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui potensi senyawa valinomisin lain dan analognya,” kata Masteria.

Para peneliti menggunakan senyawa pembanding epigallocatechin gallate (EGCG) dalam tes HCV; nistatin pada antijamur; oxytetracycline, gentamycine, dan kanamycin pada antibakteri.

Dalam tes penghambatan infeksi HCV, para peneliti juga mengamati efek valinomisin dan analognya pada sel tes. Akibatnya, viabilitas sel uji bila ditambahkan dengan valinomisin atau analognya sedikit lebih rendah daripada ECGC. Meskipun tidak secara langsung menguji toksisitas, viabilitas sel berkorelasi dengan toksisitas.

Peneliti dari Pusat Riset Bioteknologi LIPI Joko Tri Wibowo mengatakan, hasil kajian pustaka mengenai valinomisin menunjukkan bahwa valinomisin mampu menghambat infeksi virus SARS-Cov yang merebak pada tahun 2000-an.

Ia mengatakan ada pendapat dari peneliti lain bahwa valinomisin memiliki potensi besar untuk menghambat infeksi virus SARS-Cov-2. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut.

sumber: Antara

Source