Layanan TBC Tidak Berhenti – FIN

JAKARTA – Pemerintah memastikan layanan tuberkulosis (TBC) di tengah pandemi COVID-19 tidak berhenti. Bahkan program pengendalian TB terus diperkuat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah terus memperkuat keberlangsungan program pencegahan penyakit TB selama pandemi COVID-19.

Kementerian Kesehatan telah menyampaikan surat edaran nomor PM.01.02 / 1/966/2020 pada tanggal 30 Maret 2020 tentang Protokol Pelayanan Tuberkulosis, ujarnya dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS), Selasa (23/3). .

BACA JUGA: Permohonan Sertifikat Tanah Elektronik Ditunda, Pemerintah Perlu Evaluasi

Surat edaran ini secara umum menegaskan bahwa layanan TB terus berjalan di tengah pandemi COVID-19. Salah satunya adalah upaya Kementerian Kesehatan untuk mengurangi frekuensi pertemuan petugas dengan pasien TB di semua tempat pelayanan kesehatan.

Misalnya ketika seseorang mengalami gejala tuberkulosis seperti batuk, pilek dan demam, disarankan berkonsultasi dengan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan yang tersedia.

Meski gejala TB dan COVID-19 serupa, Siti Nadia memastikan petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penyakit tersebut untuk mengetahui penyebabnya.

BACA JUGA: BNPP Kunjungi Kabupaten Maluku Barat Daya, Perangkat Desa Sampaikan Kebutuhan Mendesak

“Saat ini untuk mengurangi kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, kami melakukan pemantauan kesehatan secara elektronik melalui pesan WhatsApp atau media sosial lainnya serta pengaturan interval asupan obat,” ujarnya.

Pada fase pengobatan intensif, pasien TB yang sensitif terhadap obat diberikan obat dengan interval 14-28 hari. Sedangkan fase pengobatan lanjutan diberikan dengan interval setiap 28 sampai 56 hari.

Pasien TB yang resistan terhadap obat diberikan interval tujuh hari selama fase pengobatan intensif. Untuk fase pengobatan lanjutan, obat diberikan dengan interval 14-28 hari.

BACA JUGA: Duel Catur Dewa Penggemar dan Irene, Jadi Ingat Kuliah Ustad Abdul Somad Catur Haram

“Kami juga melakukan penyesuaian pada manajemen perencanaan, sumber daya manusia, dan perawatan medis,” ucapnya.

Meski begitu, diakuinya, pandemi COVID-19 mengganggu upaya penelusuran kasus TB. Pada awal pandemi, kegiatan restriksi sosial skala besar (PSBB) muncul hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sehingga upaya investigasi kontak dilakukan sejalan dengan penerapan protokol kesehatan.

“Padahal pengidap TBC positif, bisa menularkan penyakit ke 10 sampai 15 orang di sekitarnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Kasus Pembebasan Lahan Munjul, KPK Tegur Koperasi Bos PT Adonara Propertindo

Masalah lainnya adalah aktivitas minum obat oleh pasien ke sejumlah fasilitas kesehatan mengalami penurunan selama pandemi.

“Beberapa orang terlambat minum obat karena takut berobat ke fasilitas kesehatan saat mulai pandemi, padahal protokol kesehatan dilakukan di rumah sakit. Ada pemisahan (ruang pelayanan) pasien TB dengan COVID- 19 pasien, “katanya.

Akibatnya, terjadi keterlambatan dalam mendiagnosis tuberkulosis seiring dengan keterlambatan pengiriman sampel dahak (sputum) pasien TB. Selain itu, ada tugas ganda bagi petugas TB dengan COVID-19.

BACA JUGA: Bea Cukai Kendari Jaga Ekspor Perdana Mutiara Laut dari Sulawesi Tenggara ke Hong Kong

Persoalan yang juga mempengaruhi penelusuran kasus tuberkulosis (TBC), adalah pengalihan anggaran TB untuk COVID-19, hingga ke tingkat pemerintah daerah.

“Keadaan TB Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan masih tinggi yaitu mencapai 845.000 kasus. Dalam situasi pandemi ini baru ditemukan 349.549 kasus TB yang kami temukan,” ujarnya.

Dari kasus yang ditemukan pada tahun 2020, 41,4 persen menjalani pengobatan dan 84,4 persen dinyatakan sembuh.

BACA JUGA: Berkas Belum Lengkap, Kemenkumham Belum Proses Wabah Demokrat kubu Moeldoko

Sedangkan dari 8.060 pasien TB yang dipastikan resisten terhadap obat, 56,5 persen masuk kriteria pengobatan lini kedua dan 40 persen dinyatakan sembuh.

32.251 kasus TB pada kelompok usia anak dilaporkan, 7.699 di antaranya adalah TB dengan HIV dan 12.844 dinyatakan meninggal.(gw / fin)

Source