Larangan perdagangan terhadap Australia adalah pedang bermata dua bagi China

BEIJING [China]: Larangan perdagangan yang diberlakukan oleh China di Australia menghambat pertumbuhan ekonominya dan memotong proyeksi pertumbuhannya.

China sangat bergantung pada bijih besi Australia untuk memberi makan tungku bajanya, dan pada batu bara Australia untuk menghasilkan listrik guna menjaga peralatan manufaktur ekspornya tetap berjalan, lapor South China Morning Post (SCMP).

Larangan impor batu bara Australia menciptakan krisis listrik di pusat-pusat manufaktur China yang mengakibatkan tidak terpenuhinya pesanan luar negeri sehingga menggerogoti PDBnya.

Zhou Xin yang menulis untuk SCMP berpendapat bahwa pendekatan Beijing dalam memilih pertempuran secara selektif menjadi bumerang bagi ekonomi China sendiri karena merongrong upayanya untuk mencari hubungan perdagangan dan ekonomi yang lebih dekat dengan mitra dagang regional.

China telah mengutip penyelidikan anti-dumping dan karantina ketat sebagai alasan yang sah untuk membatasi impor Australia, lapor SCMP.

China menyeret Australia atas peran utamanya dalam tuduhan COVID-19 terhadap China sebagai asal mula pandemi, serta kebijakan Canberra untuk mengunci raksasa teknologi China seperti Huawei dari peluncuran 5G-nya.

Selain itu, permusuhan China pasca-COVID-19 terhadap negara-negara yang menyalahkannya atas pandemi menghalangi kemampuan Beijing untuk membina hubungan dengan mitra dagang regional. Hubungan lebih dekat dengan China sekarang datang dengan mengorbankan kebencian terhadap mereka yang berani menyinggung Beijing.

Oleh karena itu, langkah-langkah perdagangan Beijing yang menargetkan Australia dapat dilihat ketika China menggunakan kekuatan perdagangannya melalui pasar domestiknya yang besar sebagai senjata untuk melayani tujuan politik, lapor SCMP.

Lagi pula, siapa yang mau memupuk hubungan yang lebih dekat ketika itu bisa digunakan sebagai alat hukuman di masa depan?

Pendekatan dogmatis Beijing akan menghambat peluangnya untuk bergabung dengan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik, sebuah kesepakatan perdagangan regional beranggotakan 11 orang di mana Australia menjadi anggotanya.

Beijing perlu mengkalibrasi ulang kebijakan perdagangannya untuk menjaga jalur produksi tetap berjalan karena larangan Australia mulai menjadi bumerang, kata Zhou Xin.

Source