KPK Selidiki Pemberian Perhiasan dari Stafsus Edhy kepada Perempuan

Jakarta, CNN Indonesia –

Tim investigasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki pemberian perhiasan dan jam tangan mewah terkait kasus dugaan penetapan izin ekspor benih lobster yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut, Edhy Prabowo.

Lembaga antikorupsi menduga barang tersebut diberikan oleh staf khusus Edhy, Andreau Pribadi Misata (APM) kepada seorang perempuan bernama Devi Komalasari (pribadi).

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri, mengatakan penyidik ​​telah membenarkan hal tersebut kepada Devi melalui pemeriksaan pada Kamis (4/1).

“Devi diperiksa dan dikonfirmasi tim penyidik ​​KPK terkait adanya barang-barang seperti perhiasan, jam tangan mewah, dan barang-barang lain yang diduga diterima saksi dari tersangka APM,” kata Ali, Jumat (5/2).

Ali mengatakan penyidik ​​akan terus melakukan konfirmasi kepada saksi lain. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat bukti mengenai sumber uang yang digunakan untuk membeli barang-barang tersebut.

“Mengenai jenis dan jumlah barang tersebut akan diteliti lebih lanjut dan dikonfirmasi ke pihak lain,” imbuh juru bicara berlatar belakang jaksa.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan total tujuh orang sebagai tersangka.

Enam orang menerima suap, yaitu Edhy Prabowo; staf Edhy, Safri dan Andreau Pribadi Misata; Manajemen PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi; Staf istri Edhy, Ainul Faqih; dan sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin.

Sedangkan pemberi suap adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito.

Edhy dan sejumlah pihak diduga menerima uang tunai Rp9,8 miliar dan US $ 100 ribu terkait dengan penerbitan izin ekspor benih lobster. Dia diduga menggunakan uang itu untuk membeli beberapa barang mewah di Honolulu, Amerika Serikat.

(ryn / arh)

[Gambas:Video CNN]


Source