Klaim Propam Sudah Diperiksa Kapolres Malang Yang Disebut Menembak Mahasiswa Papua

TEMPO.CO, Jakarta – Divisi Profesi dan Keamanan Polri mengaku telah memeriksa Kapolres Malang Kota Kombes Leonardus Harapanantua Simarmata Permata terkait pernyataan rasis. Dia dilaporkan oleh Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) setelah diduga berbicara secara rasis terhadap mahasiswa Papua selama rapat umum Hari Perempuan Internasional.

“Sudah diselidiki dan saat ini sedang menyelidiki kasus apakah yang bersangkutan melakukan pelanggaran,” kata Kepala Bidang Penerangan Masyarakat Mabes Polri Kompol Ahmad Ramadhan di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa 23 Maret 2021.

Sementara itu, penyidik ​​akan memeriksa saksi ahli bahasa tersebut untuk mengetahui apakah ucapan Leonardus memiliki unsur yang dilaporkan atau tidak.

Sebagai informasi, pernyataan Kapolsek tersebut terekam kamera dan viral di media sosial. Salah satu akun yang membagikan video tersebut adalah akun milik aktivis Papua Veronica Koman, @VeronicaKoman.

“Kalau masuk perbatasan, darahnya halal, tembak. Darah halal, tembak. Masuk pagar ini, darah halal,” kata suara yang terdengar dalam video yang beredar di media sosial pada 9 Maret 2021.

Aliansi Mahasiswa Papua kemudian melaporkan Leonardus ke Divisi Profesional dan Keamanan Polisi. Pengacara Aliansi Mahasiswa Papua, Michael Himan, mengatakan Leonardus selaku Kapolda Malang meminta anggotanya untuk menembak mahasiswa Papua.

“Dia berkata, ‘Tembak, tembak saja, tembak sampai mati’ lalu ‘Jika pintunya dihancurkan, tembak. Darah mereka halal.’ Pernyataan itu benar-benar merendahkan manusia. Ini pemimpin di lembaga kepolisian, seorang Kapolri yang tidak bisa mengontrol emosi, “kata Michael usai melapor ke Divisi Profesional dan Keamanan Polisi, Jumat, 12 Maret 2021.

Michael menilai Leonardus harus mengedepankan prinsip hak asasi manusia (HAM). Namun, dia bertindak berlawanan arah. “Kami minta Kapolri Jenderal Listyo Sigit bertindak cepat atau menindak Kapolri,” kata Michael. Ia khawatir jika masalah ini dibiarkan akan terjadi kekacauan seperti di Surabaya pada 2019.

“Saat itu seluruh Papua menyebar dan memprotes tindakan rasis seperti ini,” kata Michael.

ANDITA RAHMA

Source