Ketika Kasus Covid-19 Melonjak di India, “Itu Hari Yang Memilukan Bagi Saya …” Halaman semua

KOMPAS.com – India berada di bawah cengkeraman gelombang kedua Covid-19 yang mematikan.

Negara bagian terpadat di India, Uttar Pradesh, termasuk di antara yang paling parah terkena dampak gelombang kedua di negara itu.

Meski demikian, pihak berwenang bersikeras bahwa situasi terkendali.

Baca juga: Gejala Baru Covid-19 Saat Gelombang Kedua Terjadi di India, Apakah Anda?

Seorang warga bernama Niranjan Pal Singh (58), meninggal dunia pada Jumat (16/4/2021) di ambulans saat dibawa dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

Mereka telah ditolak oleh empat rumah sakit karena kekurangan tempat tidur.

“Itu adalah hari yang memilukan bagi saya,” kata putra Niranjan, Kanwal Jeet Singh, seperti dikutip BBC, Selasa (20/4/2021).

“Saya yakin jika dia menerima perawatan tepat waktu, dia akan hidup. Tapi tidak ada yang membantu kami, polisi, otoritas kesehatan atau pemerintah,” lanjutnya.

Dengan populasi 240 juta orang, Uttar Pradesh adalah negara bagian terpadat di India.

Jika itu adalah negara yang terpisah, Uttar Pradesh mungkin akan menjadi negara terbesar kelima di dunia, tepat di belakang China, India, AS, dan Indonesia.

Ribuan infeksi baru dilaporkan setiap hari membuat infrastruktur kesehatan negara menjadi sorotan.

Baca juga: Gelombang Kedua Korona di India: Rumah Sakit dan Krematorium yang Kewalahan

Di antara pasien yang terinfeksi adalah Kepala Menteri Yogi Adityanath, beberapa rekan kabinetnya, puluhan pejabat pemerintah, ratusan dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya.

Video yang dibagikan oleh jurnalis lokal di Kanpur menunjukkan seorang pria sakit terbaring di tanah di tempat parkir rumah sakit Lala Lajpat Rai yang dikelola negara.

Di lokasi yang sama, seorang lelaki tua duduk di bangku rumah sakit.

Keduanya dinyatakan positif Covid-19, tetapi rumah sakit tidak memiliki tempat tidur untuk menampung mereka.

Di luar rumah sakit Kanshiram yang dikelola pemerintah, seorang wanita muda menangis ketika dia mengatakan bahwa dua rumah sakit menolak untuk menerima ibunya yang sakit.

“Mereka bilang mereka sudah kehabisan tempat tidur. Kalau kamu tidak punya tempat tidur, taruh dia di lantai, tapi paling tidak beri dia perawatan. Ada banyak pasien seperti ibuku,” kata wanita itu.

“Pak Menteri bilang ada cukup tempat tidur, tolong tunjukkan di mana tempatnya. Tolong obati ibu saya,” lanjutnya.

Baca juga: Kasus Covid-19 Harian di India Tembus 260.000 Kasus, Apa Penyebabnya?

Situasi darurat

Situasi di ibu kota Uttar Pradesh, Lucknow, juga sama mengerikannya.

Seorang pasien bernama Sushil Kumar Srivastava terlihat duduk di mobilnya dengan tabung oksigen sementara keluarganya yang putus asa membawanya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain.

Pada saat mereka menemukan tempat tidur untuknya, semuanya sudah terlambat.

Sementara itu, tulisan tangan pensiunan hakim Ramesh Chandra untuk meminta bantuan setelah pihak berwenang gagal membawa istrinya ke rumah sakit menjadi viral di media sosial.

“Saya dan istri sama-sama positif mengidap virus corona. Sejak kemarin pagi, setidaknya saya sudah menelepon nomor telepon bantuan pemerintah sebanyak 50 kali, tapi belum ada yang datang untuk mengantarkan obat atau membawa kami ke rumah sakit,” tulisnya.

“Karena kelambanan administrasi, istri saya meninggal tadi pagi,” ujarnya.

Kisah kematian dan musnahnya keluarga akibat Covid-19 tersebar luas seiring kasus penularan yang terus meningkat pada Minggu (19/4/2021).

Negara bagian memiliki 30.596 kasus baru, tertinggi yang pernah dilaporkan.

Aktivis oposisi dan politisi menuduh negara menjaga kasus dan jumlah kematian rendah dengan tidak melakukan banyak pengujian.

Media India juga mempertanyakan data pemerintah karena perbedaan antara jumlah resmi kematian dan jenazah di krematorium di Lucknow dan Varanasi.

Baca juga: 3 Gejala Varian Baru Covid-19 Afrika Selatan dan Brasil Muncul di India

Source