Keributan investasi jahil senilai Rp25 triliun, skandal Ponzi AS terbesar ke-2

Jakarta, CNBC Indonesia – Investasi palsu dengan skema Ponzi kembali ke Amerika Serikat (AS). Pasca kasus Madoff Investment Securities, yang menimbulkan keributan di Amerika pada tahun 2008 dan mencoreng namanya Badan Pengawas Pasar Modal AS (Bapepam), Securities and Exchange Commission / SEC, kali ini penipuan serupa kembali terjadi.

Pendiri perusahaan pengelola uang di New York itu dan dua rekannya dituntut secara pidana pada Kamis (4/2/20201) karena melakukan penipuan dengan skema Ponzi senilai US $ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25,3 triliun (asumsi Rp. 14.072 / US $). Dia adalah David Gentile (54), kepala eksekutif GPB Capital Holdings LLC.

Dia dituduh menipu lebih dari 17.000 investor ritel. Dia menjanjikan pengembalian investasi tahunan yang stabil sebesar 8% bahkan ketika perusahaan mengalami kerugian.

Pihak berwenang mengatakan GPB yang berbasis di Manhattan menjanjikan investor bahwa pembayaran mereka akan didanai oleh pendapatan dari kepemilikan perusahaan, termasuk sekelompok dealer mobil. Padahal, porsi ini berasal dari uang investor baru.

Para terdakwa juga diduga menyedot jutaan dolar untuk diri mereka sendiri. Ini termasuk barang-barang mewah seperti Ferrari for Gentile dan tagihan American Express sebesar US $ 29.837 untuk perayaan ulang tahun ke-50 Gentile.

Selain Gentile, sejumlah mantan mitra pengelola GPB juga dikenakan biaya yang sama. Dia adalah Jeffrey Lash (51) dari Naples, Florida dan Jeffry Schneider (52) dari Austin, Texas, yang memiliki agen penempatan GPB, Ascendant Capital LLC.

Masing-masing didakwa dengan penipuan dan konspirasi sekuritas. Gentile dan Lash juga dituduh penipuan kawat, yaitu kejahatan yang melibatkan pengiriman surat atau transmisi elektronik sesuatu yang berhubungan dengan penipuan.

Gugatan perdata terkait diajukan oleh Jaksa Agung New York Letitia James, yang mengatakan korban kehilangan lebih dari US $ 700 juta (Rp 9,8 triliun). Serta oleh beberapa regulator federal dan negara bagian lainnya.

Menurut dokumen pengadilan, GPB mengklaim hanya mengelola US $ 239 juta per Desember. Padahal perusahaan ternyata mengumpulkan US $ 1,8 miliar.

Keluhan dari Komisi Sekuritas dan Bursa AS termasuk tuduhan bahwa GPB telah membungkam pelapor yang diketahui dan melarang mantan karyawan untuk berbicara dengan agensi. Dalam sebuah pernyataan, GPB membantah tuduhan tersebut dan mengatakan akan membela diri.

Dilaporkan oleh CNBC Internasional, Kamis (4/2/2021), hingga saat ini kuasa hukum Gentile tidak menanggapi komentar dan kuasa hukum Schneider belum bisa dihubungi. Sementara itu, pengacara Lash, mengatakan kliennya akan mengaku tidak bersalah.

Halaman 2 >>

Source