Kementerian Kesehatan Ungkap Dua Kondisi Yang Tidak Bisa Vaksinasi Saat Puasa

Jakarta, CNN Indonesia –

Juru Bicara Vaksinasi dari Menteri Kesehatan Siti Nadia Tarmizi membeberkan dua syarat bagi warga yang berpuasa yang tidak bisa menerima suntikan vaksin virus corona (covid-19).

Hal tersebut ia sampaikan sebagai jawaban atas keprihatinan masyarakat khususnya keluarga para lansia yang akan divaksinasi pada siang hari saat berpuasa.

“Itu akan dilakukan nanti penyaringan Dalam target vaksinasi, jika dilihat, misalnya, mereka terlalu lemah akibat puasa, atau tekanan darah terlalu rendah. Jadi kemungkinan vaksinasi ini akan ditunda, ”kata Nadia dalam jumpa pers yang disiarkan secara online melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI, Senin (12/4).

Namun, Nadia meminta warga untuk tidak mandiri mendiagnosis gejala tubuh. Nadia terus meminta warga sasaran vaksinasi untuk mendatangi fasilitas kesehatan atau pusat vaksinasi terdekat.

Nadia juga mengungkapkan bahwa vaksinasi tidak akan membatalkan puasa. Karena vaksinasi Covid-19 dilakukan dengan cara injeksi intramuskular.

Intramuscular sendiri merupakan teknik vaksinasi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat atau vaksin melalui otot. Tindakan ini, kata dia, bisa dilakukan pada siang hari saat berpuasa asalkan tidak merugikan.

Selain itu, kata Nadia, selama ini belum ada penelitian yang mendukung vaksinasi selama puasa. Namun menurutnya, menurut para ahli puasa merupakan proses detoksifikasi atau pembersihan zat-zat yang kurang bermanfaat di dalam tubuh, sedangkan vaksinasi dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

“Tentunya dengan efek yang sama antar vaksin yang pada prinsipnya memberikan atau meningkatkan kesehatan kita, ditambah dengan puasa yang tujuannya tidak mempengaruhi kesehatan kita, tentunya kita tidak perlu khawatir,” tandasnya.

Mobilitas Naik

Dalam kesempatan yang sama, Nadia mengungkapkan mobilitas alias pergerakan orang mulai meningkat lagi pada April ini

Kenaikan tersebut dinilai menyusul kebijakan pelarangan mudik Lebaran 6-17 Mei yang dikeluarkan pemerintah.

Kondisi ini kemudian dikhawatirkan akan memicu peningkatan kasus Covid-19 di Tanah Air, terutama angka kesakitan dan kematian lansia di tanah air para pelaku mudik.

“Meski pemerintah meniadakan mudik Lebaran tahun ini, namun pergerakan masyarakat ke tujuan mudiknya pada awal April sudah mulai meningkat. Dan kami melihat adanya peningkatan mobilitas masyarakat sejak April ini,” ujarnya.

Menanggapi warga yang ‘mencuri start’ untuk pulang, Nadia mengaku saat ini pihaknya sedang mendorong program vaksinasi virus corona (covid-19) untuk lansia. Upaya ini dinilai mampu meminimalisir angka penularan pada lansia yang rentan terpapar virus corona.

Nadia memastikan sebanyak 60 persen ketersediaan vaksin covid-19 pada April akan dialokasikan khusus untuk program vaksinasi lansia Indonesia. Upaya dilakukan untuk meningkatkan tingkat vaksinasi bagi lansia yang lesu.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan kemudian menargetkan sebanyak 90 persen dari 21.553.118 lansia sudah mendapat suntikan pertama pada akhir Juni 2021.

“Tentunya untuk mengantisipasi lonjakan kasus, strategi pemerintah saat ini adalah mempercepat vaksinasi lansia yang menjadi salah satu kunci kita, terutama di daerah tujuan mudik,” jelas Nadia.

(khr / bmw)

[Gambas:Video CNN]


Source