Kebijakan Sertifikat Penerima Vaksin Covid yang Dikritik, Mengapa?

Jakarta, CNBC Indonesia– Ahli epidemiologi dari Pusat Kesehatan Lingkungan dan Kependudukan di Griffith University di Australia, Dr. Dicky Budiman, mengkritik kebijakan e-sertifikat bagi mereka yang telah divaksinasi. Ia menilai dengan memiliki e-sertifikat dan kemudian bebas bepergian tanpa tes, itu akan mengurangi tujuan pengendalian pandemi.

“Angka positifnya hampir 20% artinya semakin tidak terkendali, jadi jangan disangka vaksin ini salah satu keajaiban. Ingat vaksin bukan ujung tombak pandemi,” kata Dicky saat dihubungi. oleh CNBC Indonesia, Minggu (17/01/2021).

“Vaksin hanya salah satu alat pendukung, ujung tombak 3T dan diperkuat dengan protokol kesehatan menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak (3M) serta diperkuat dengan vaksin individual.”

Saat ini vaksinasi masih belum memungkinkan bagi penduduk Indonesia, dan masih ada kelompok tertentu yang akan dilanggar, karena akses hanya dapat diberikan kepada kelompok tertentu.

“Kebijakan ini, meskipun ada e-certificate, tidak bisa menggantikan testing and tracing, tapi tidak tepat untuk mengeluarkan (e-certificate) karena jika ingin membuat masyarakat mau divaksinasi maka bangun kepercayaan mereka, ” dia berkata.

Selain itu, dia mengatakan tidak ada satupun vaksin korona di dunia yang bisa menjamin saat divaksinasi dan orang tersebut masih sakit tapi tidak menular. Masih membutuhkan waktu untuk mencapai kekebalan kelompok, dan vaksin hanyalah strategi yang melengkapi strategi lain yang lebih mendasar.

“Vaksin tidak bisa menggantikan testing, tracing and treatment (3T). Vaksin bukan ujung tombak pandemi, tapi strategi pendukung dalam pengendalian pandemi,” kata Dicky.

Sebelumnya, aturan e-sertifikat sudah diatur dalam Permenkes No. 84 Tahun 2020 tentang pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 yang ditandatangani Menteri Kesehatan Terawan Putranto dan berlaku sejak 14 Desember 2020.

Pasal 25 menyebutkan bahwa orang yang divaksinasi Covid-19 akan diberikan sertifikat vaksin berupa kartu vaksinasi atau sertifikat elektronik. “Kalau memang dibutuhkan pelancong, surat vaksinasi Covid-19 sudah tertulis di sertifikat internasional,” tulis peraturan itu.

[Gambas:Video CNBC]

(roy / roy)


Source