Kata saksi tentang keramaian Rizieq Shihab di Megamendung. Halaman semua

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur menggelar sidang lanjutan terdakwa Rizieq Shihab pada Senin (19/4/2021).

Agenda sidang adalah pemeriksaan saksi dari penuntut umum (JPU).

Empat saksi yang hadir dalam persidangan kemarin, yakni Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor Kepala Bidang Pengendalian Masyarakat Teguh Sugiarto, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Megamendung Iwan, dan Camat Megamendung Endi Rismawan.

Keempatnya bersaksi tentang kasus keramaian yang disebabkan oleh Rizieq dan massa simpatisan di Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor, pada 13 November 2020.

Peletakan batu pertama di Pesantren Alam Agrokultural ini dihadiri sekitar 3.000 orang.

Program tidak resmi

Kasatpol PP Kabupaten Bogor Agus Ridallah mengatakan, agenda kegiatan Rizieq di Pondok Pesantren Alam Agrokultural Megamendung yang kemudian memicu massa untuk tidak mengantongi izin.

“Apakah terdakwa sebagai pemilik Pondok Pesantren datang ke Satgas Covid-19 untuk mengajukan izin?” tanya hakim.

“Tidak ada,” kata Agus.

Baca juga: Saksi: Acara Rizieq di Megamendung yang Memicu Massa Tak Berwenang

Agus juga mengatakan Rizieq belum menandatangani kesepakatan untuk mematuhi protokol kesehatan (prokes).

“Memang dalam peraturan saat itu, untuk satu kegiatan hanya (dihadiri) maksimal 150 orang dalam waktu tiga jam, dan panitia menandatangani komitmen pemenuhan program kepada bupati,” kata Agus.

Namun, Rizieq tidak melakukannya.

Sebut saja karakter Rizieq

Dalam persidangan, hakim juga menanyakan langkah apa yang dilakukan Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor, termasuk jajaran Satpol PP, untuk mengantisipasi keramaian suporter Rizieq.

Agus menuturkan, Satpol PP bersama TNI dan Polri menggelar aksi bersama pada 12 November 2020.

“Saya perintahkan sekretaris negara untuk mengantisipasi sekaligus melakukan upaya pencegahan pelanggaran protokol kesehatan,” kata Agus.

Hakim juga menanyakan mengapa Pemerintah Kabupaten Bogor melakukan persiapan seperti itu untuk mengantisipasi keramaian yang akan dihimpun pendukung Rizieq.

Baca juga: Kasatpol PP Kabupaten Bogor Sebut Kepribadian Rizieq dalam Kasus Kerumunan Megamendung

“Siapa tergugat ini (Rizieq) sehingga Pemkab Bogor harus mempersiapkan semua itu?” kata Hakim Suparman Nyompa.

Agus pun menjawab, antisipasi perlu dilakukan karena Rizieq memiliki banyak follower yang berpotensi membuat keramaian.

“Kita tahu terdakwa adalah sosok yang banyak followernya dan sangat terkenal, jadi kita dari Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor sudah mempersiapkan (semuanya),” kata Agus.

Satgas Covid-19 ditolak pihak pesantren

Usai acara Rizieq di Megamendung, Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor melakukan penelusuran di enam desa di Kecamatan Megamendung. Alhasil, ada 20 orang yang reaktif terhadap Covid-19.

“Berdasarkan informasi ada 20 atau lebih reaktif saat itu, ada di beberapa desa tapi saat itu saya kurang tahu detailnya,” kata Agus kepada jaksa.

Jaksa kemudian mengklarifikasi pernyataan Agus dengan menanyakan apakah ada laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

“(Dari) Dinkes dan Puskesmas sudah ada laporan ke Satgas Covid-19 sebanyak 20 yang reaktif,” lanjut Agus.

Agus mengatakan Satgas Covid-19 juga tengah berupaya melakukan hal tersebut menelusuri di Pondok Pesantren Alam Agrocultural Rizieq usai acara. Namun itu ditolak.

“Setelah kita akan lakukan di dalam, kebetulan dari pesantren informasinya sudah teruji secara cepat (antigen). Seperti itu Pak,” kata Agus.

Baca juga: Saksi: Satgas Covid-19 Coba Telusur di Ponpes Rizieq Shihab, Tapi Ditolak

Rizieq beralasan Satgas Covid-19 Kabupaten Bogor tidak bisa masuk ke pesantren untuk masuk. tes cepat antigen karena ponpes sedang kuncitara.

“Tidak ada yang boleh masuk kecuali penghuni markas syariah. Siapa penghuni markas syariah? Kiai siswa, guru, itu saja yang bisa masuk, orang luar tidak boleh masuk,” kata Rizieq.

“Jadi saya minta maaf. Tidak mungkin camat (Megamendung) masuk pesantren kalau dia datang. tes cepat, karena pesantren sedang melaksanakannya kuncitara, ”tambah Rizieq.

Rizieq juga menyinggung aktivitasnya tes cepat Di Pondok Pesantren Alam Agrocultural, tim MER-C rutin digelar.

“Kita bawa, mereka cek berkala. Bisa datang sebulan dua kali, kalau ada yang sakit, atau ada yang reaktif, kita urus dan sebagainya,” kata Rizieq.

Camat Megamendung Endi Rismawan mengatakan Rizieq Shihab bertanggung jawab atas keramaian yang terjadi di Pondok Pesantren Alam Agrokultural.

“Dari serial tersebut, pemilik pondok pesantren adalah Rizieq Shihab. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas keramaian pada tanggal 13?” tanya hakim kepada Endi.

Endi memberikan jawaban sesuai berita acara pemeriksaan (BAP). Ia mengatakan, pemilik pesantren harus bertanggung jawab.

“Jadi, siapa yang bertanggung jawab?” tanya hakim dengan tegas.

“Habib Rizieq,” jawab Endi.

Spontanitas massa

Teguh Sugiarto, Kepala Bidang Pengendalian Masyarakat Satpol PP Kabupaten Bogor, mengatakan massa simpatisan yang berkumpul pada acara Rizieq di Megamendung itu bersifat spontan.

Hal itu disampaikan Teguh usai dimintai keterangan oleh Rizieq.

“Orang-orang datang, Anda menelepon ribuan orang sebelumnya, apakah mereka datang untuk berdemonstrasi untuk saya atau untuk menyambut saya?” tanya Rizieq.

“Selamat datang,” jawab Teguh.

Rizieq kemudian membenarkan lagi kepada para saksi.

“Sambut masyarakat, apa yang kalian lihat, mereka menyapa dengan penuh kebencian atau dengan penuh cinta? Jawab jujur, tolong dulu Pak Teguh hadir di lapangan,” kata Rizieq.

Baca juga: Rizieq Shihab Tanya Saksi: Misa Megamendung Sambut Saya dengan Benci atau Cinta?

“Kalau (menurut) saya penuh cinta,” jawab Teguh.

“Mereka menyambut kasih, artinya menjadi lebih jelas ya, mereka menyambut mereka dengan antusias,” kata Rizieq.

Setelah itu, Rizieq juga mengonfirmasi kepada tiga saksi lainnya, yakni Kapolsek Bogor Satpol PP Agus Ridallah, Kepala Seksi Ketertiban dan Ketertiban Kecamatan Megamendung Iwan, dan Camat Megamendung Endi Rismawan.

Dengan pertanyaan itu, Rizieq menegaskan massa simpatisannya yang hadir pada 13 November 2020 di Megamendung itu hadir secara spontan, tidak diatur sedemikian rupa.

“Saya hanya memastikan orang datang secara spontan,” kata Rizieq.

Rizieq juga membagi kasus keramaian Megamendung menjadi tiga, yakni di perempatan Gadog, di sepanjang jalur menuju Pesantren, dan Pesantren Alam Agrokultural.

Rizieq mengatakan, massa menyambutnya mulai dari perempatan Gadog hingga Pondok Pesantren Alam Agrokultural yang tidak memiliki pantia dan hanya spontanitas.

Source