Ini buruk! Investor Indonesia Mulai Enggan Belanjakan Saham, Ini Penyebabnya

Jakarta, CNBC Indonesia – Bahana Sekuritas menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum kemana-mana dan cenderung tertekan. Alasan utamanya adalah pasar saham domestik yang saat ini sepi peminat.

Dalam risetnya, Analis Bahana Sekuritas Hadi Soegiarto mengatakan saat ini IHSG hanya akan bergantung pada aliran dana dari investor asing (capital inflow). Pasalnya, investor domestik, baik investor institusi maupun investor ritel, saat ini sedang mengalami penurunan daya beli.

Yang diharapkan pasar domestik adalah kembalinya investor asing, karena investor asing telah melakukan net selling sejak 2017 dan meninggalkan kepemilikan asing hingga 38% di pasar ekuitas domestik per Maret 2021.

Namun pada saat bersamaan, pasar global saat ini akan dihadapkan pada penawaran umum perdana (IPO) dari sejumlah perusahaan teknologi terkemuka. Sebut saja Gojek, Grab dan Traveloka.

Sehingga dana asing sudah antri untuk masuk ke saham tersebut. Apalagi, Gojek dan Grab saat ini setara dengan perusahaan terbesar ke-6 dan ke-7 di Indonesia dan keduanya akan mencatatkan sahamnya di luar negeri.

“Mereka akan bersaing dengan perusahaan besar di Indonesia (Gojek sendiri bisa menimbang setengah atau sebanyak TLKM di IHSG tergantung floatnya), dan menawarkan eksposur ke sektor hot technology Indonesia di luar IHSG,” tulis riset tersebut, dikutip Selasa (20/1). / 4). / 2021).

“Untuk saat ini, investor asing mungkin memiliki likuiditas, mengingat pencatatan Ant Financial dibatalkan. Indonesia mungkin masih memiliki tema yang menarik – pemulihan pertumbuhan pasca pandemi, tetapi kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk merayu investor.”

Sementara itu, investor institusi domestik saat ini mengalami keterbatasan daya beli. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, para investor ini menjadi ‘bumper’ melawan net sell yang dilakukan investor asing. Investor institusional ini termasuk perusahaan asuransi dan pengelola dana serta pengelola dana jaminan sosial.

Saat ini, investor institusi yang memiliki dana terbatas juga menantikan IPO Gojek yang akan dual listing, dan akan memiliki bobot hingga 8% untuk pasar domestik.

Sementara itu, pengelola dana jaminan sosial saat ini memilih mengurangi eksposur investasi pada saham untuk jangka menengah. Padahal, itu memainkan peran yang sangat besar di pasar sehingga bisa menstabilkan pasar saat terjadi koreksi.

Sementara itu, investor ritel saat ini sedang ‘istirahat’ pada bulan Maret dan April, setelah mengalami periode kenaikan pasar yang cukup tinggi dan pesat pada triwulan IV 2020 hingga triwulan I 2012.

“Pada akhir Desember 2020, investor ritel telah melampaui dana institusional domestik dalam leverage pasar, tetapi perhatikan bahwa gaya investasi mereka condong ke saham menengah dan kecil yang bergejolak, yang mungkin kurang relevan bagi investor institusional,” tulis Hadi.

Untuk itu, Bahana merekomendasikan investor untuk bersikap defensif dalam waktu dekat. Sentimen positif yang akan mempengaruhi pasar adalah keberhasilan program vaksinasi massal dan pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Namun sayangnya vaksinasi ini diharapkan selesai pada triwulan II 2021 mencapai 85%. Selain itu, ketersediaan vaksin juga menimbulkan ketidakpastian.

Kedua sentimen tersebut dinilai sangat mempengaruhi minat investor asing. Namun demikian, kondisi tingkat suku bunga global yang fluktuatif dan nilai tukar Rupiah yang masih dapat membatasi kenaikan IHSG perlu diperhatikan.

Sekuritas ini merekomendasikan saham-saham yang defensif terhadap kondisi pandemi saat ini, seperti ICBP, INDF, KLBF, dan TLKM. Saham lain yang dianggap defensif adalah MYOR meski valuasinya kurang menarik.

[Gambas:Video CNBC]

(hps / hps)


Source