Hasil penelitian menyebutkan bakal ada masalah baru setelah sembuh dari Covid-19

KONTAN.CO.ID – LONDON. Peneliti memperingatkan potensi bahaya baru bagi kesehatan manusia setelah Covid-19. Setelah sembuh dari Covid-19, pasien dapat mengalami efek negatif.

Penelitian terbaru menemukan bahwa satu dari tiga penyintas Covid-19 berisiko menderita gangguan mental atau neurologis. Gangguan tersebut dikatakan mulai muncul dalam enam bulan.

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Lancet Psychiatry, Selasa (6/4), menganalisis catatan kesehatan 236.379 pasien yang sebagian besar berasal dari AS. Ditemukan bahwa 34% telah didiagnosis dengan penyakit neurologis atau psikiatri dalam waktu enam bulan.

Gangguan kecemasan (17%) dan gangguan mood (14%) adalah yang paling umum. Kedua kelainan ini disebut tidak terkait dengan seberapa ringan atau parah infeksi virus yang dialami.

Para peneliti kini memperingatkan bahwa gangguan jiwa akibat Covid-19 memang ada dan bisa menjadi masalah baru, bahkan setelah pandemi selesai.

Dilaporkan oleh ReutersPara peneliti yang terlibat tidak mengatakan dengan jelas bagaimana virus itu terkait dengan kondisi kejiwaan seperti kecemasan dan depresi. Namun, masalahnya adalah diagnosis paling umum di antara 14 kelainan yang mereka lihat.

Baca juga: WHO menjamin bahwa manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risikonya

Kasus parah pasca-COVID-19 seperti stroke, demensia, dan gangguan neurologis lainnya cenderung lebih jarang terjadi. Namun jumlahnya cukup signifikan, terutama pada penderita Covid-19 dengan gejala yang parah.

Di antara pasien dengan gejala parah ini, sekitar 7% mengalami stroke dan hampir 2% didiagnosis dengan demensia setelah enam bulan.

“Hasil kami menunjukkan bahwa penyakit otak dan gangguan kejiwaan lebih umum terjadi setelah Covid-19 daripada setelah flu atau infeksi pernapasan lainnya,” kata Max Taquet, psikiater di Universitas Oxford Inggris, yang ikut menyelidiki fenomena ini.

Sayangnya penelitian ini belum mampu menunjukkan mekanisme biologis atau psikologis yang terlibat. Para peneliti hanya mendesak agar dilakukan identifikasi lebih lanjut untuk mencegah atau mengobatinya.

Studi yang sama, oleh peneliti yang sama, menemukan tahun lalu bahwa 20% dari penderita Covid-19 didiagnosis dengan gangguan kejiwaan dalam waktu tiga bulan.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Source